Bogor, VertaNews.com — Keterbatasan lahan bukan alasan bagi Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur untuk berhenti berinovasi.
Setiap area yang tersedia terus dipetakan dan dimanfaatkan untuk mendukung program ketahanan pangan sekaligus memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan.
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Bambang Wijanarko, mengatakan optimalisasi lahan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing area.
Menurut Bambang, lahan yang tersedia tidak dibiarkan menganggur. Area yang memungkinkan untuk pertanian dimanfaatkan untuk budidaya tanaman, sedangkan lahan dengan kondisi kurang sesuai diarahkan untuk kegiatan produktif lainnya, termasuk peternakan.
“Kami memanfaatkan semua lahan yang ada. Sedikit demi sedikit kami manfaatkan untuk ketahanan pangan. Alhamdulillah sudah berjalan dan mulai menghasilkan,” kata Bambang usai meresmikan Lapas Pangan Mandiri, Jumat (21/8).
Bambang menegaskan pihaknya memiliki prinsip bahwa setiap lahan di lingkungan lapas harus memberikan manfaat.
Bahkan, area beranggang yang masih memungkinkan untuk dimanfaatkan turut dioptimalkan. Namun, penggunaannya tetap disesuaikan dengan kondisi dan peruntukan lahan.
“Pokoknya tidak ada lahan yang tidur. Semua kami manfaatkan, terutama yang masih bisa digunakan. Tetapi tetap disesuaikan dengan peruntukannya,” ujarnya.
Strategi tersebut menjadi penting lantaran lahan yang tersedia di Lapas Narkotika Gunung Sindur memiliki keterbatasan. Karena itu, pihak lapas tidak memaksakan seluruh area menjadi lahan pertanian.
Jika kondisi tanah tidak mendukung, pemanfaatannya dialihkan ke sektor lain yang lebih memungkinkan.
“Kalau lahannya tidak produktif untuk pertanian, ya kami pindahkan ke peternakan. Tidak bisa dipaksakan kalau tanahnya memang tidak subur,” tutur Bambang.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kondisi tanah. Bambang menyebut kualitas tanah di sejumlah area belum sepenuhnya ideal untuk budidaya tanaman.
Namun, keterbatasan tersebut justru mendorong jajaran Lapas Gunung Sindur mencari metode alternatif.
Penggunaan polybag menjadi salah satu solusi. Media tanam dapat diracik dan dicampur dengan komposisi nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.
“Khususnya di sini kualitas tanahnya kurang, sehingga kami menggunakan polybag. Medianya bisa dicampur sesuai dengan nutrisi yang dibutuhkan,” kata Bambang.
Langkah tersebut membuat pengembangan pertanian tidak sepenuhnya bergantung pada kualitas tanah yang tersedia.
Program ketahanan pangan yang dikembangkan Lapas Narkotika Gunung Sindur juga mulai diarahkan agar hasilnya tidak hanya dinikmati untuk kebutuhan internal.
Bambang berharap, ketika produktivitas sudah semakin kuat, hasil program ketahanan pangan tersebut dapat ikut menopang kebutuhan satuan kerja pemasyarakatan lainnya.
“Mudah-mudahan nanti seperti beras, kami bisa menyuplai lapas-lapas lain,” ujarnya.
Namun, Bambang menilai keberhasilan internal tetap menjadi fondasi utama sebelum ekspansi dilakukan.
“Fokus kami sekarang supaya yang ada di sini berhasil dulu. Kalau produktivitasnya sudah bagus, baru ke depan kami kembangkan,” katanya.
Untuk memperluas program, Lapas Narkotika Gunung Sindur juga membuka peluang pemanfaatan lahan idle apabila tersedia dan dapat diajukan sesuai ketentuan.
Meski demikian, pengembangan tidak semata-mata bergantung pada penambahan lahan. Optimalisasi area yang sudah dimiliki menjadi prioritas.
Bambang ingin membuktikan bahwa lahan terbatas tetap mampu menghasilkan jika dikelola dengan strategi yang tepat.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembinaan warga binaan. Mereka tidak hanya diarahkan mengikuti kegiatan, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam mengelola proses produksi, memahami teknik budidaya, menjaga produktivitas, serta mengenal pola kerja yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, lahan di balik tembok lapas perlahan diubah menjadi ruang produktif.
Bukan sekadar tanah kosong, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar membangun ketahanan pangan, keterampilan warga binaan, dan pemasyarakatan yang semakin produktif. (GMO)












