Jakarta, VertaNews.com — Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat mencatat capaian 125 kuota permohonan paspor dalam waktu kurang dari dua jam di gelaran Pasporia CFD, Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (6/9).
Angka itu bukan sekadar jumlah pemohon. Capaian tersebut menunjukkan peningkatan dibanding pelaksanaan sebelumnya, ketika 100 kuota paspor dapat terlayani dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit.
Jika dibandingkan dari sisi jumlah kuota yang tersedia, kapasitas pelayanan kali ini meningkat sekitar 25 persen.
Capaian tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana layanan jemput bola terus dikembangkan agar masyarakat bisa mengurus kebutuhan keimigrasian tanpa harus mengorbankan aktivitas mereka di hari libur.
Pasporia CFD menjadi salah satu ruang bagi Imigrasi Jakarta Barat untuk membawa pelayanan lebih dekat kepada masyarakat. Konsepnya sederhana. Warga datang ke CFD untuk beraktivitas, sementara layanan paspor tersedia di lokasi yang sama.
Masyarakat tidak perlu mengubah seluruh agenda akhir pekannya hanya untuk mendatangi kantor imigrasi. Bagi kelompok masyarakat yang memiliki kesibukan tinggi pada hari kerja, model pelayanan seperti ini menjadi alternatif yang cukup menarik.
Hal itu dirasakan Linda, salah satu pemohon paspor yang memanfaatkan layanan Pasporia CFD. Sebagai perempuan yang bekerja, Linda mengaku waktu menjadi salah satu kendala untuk mengurus paspor pada hari kerja.
Ia pun memilih memanfaatkan momentum CFD untuk menyelesaikan urusan administrasi sekaligus berolahraga. Menurut Linda, pengalaman mendapatkan pelayanan di Pasporia berada di luar perkiraannya.
“Saya awalnya datang ke CFD untuk olahraga, sekalian saya manfaatkan untuk mengurus paspor karena selama hari kerja cukup sulit mencari waktu datang ke kantor imigrasi. Ternyata prosesnya cepat dan petugasnya membantu dari registrasi sampai selesai. Pelayanannya di luar ekspektasi saya karena tidak mengganggu waktu olahraga,” ungkap Linda usai mengurus paspor.
Bagi Linda, keberadaan layanan tersebut membuat urusan paspor terasa jauh lebih praktis. Ia tidak harus memilih antara pekerjaan, olahraga, dan mengurus dokumen perjalanan.
Ketiganya bisa dilakukan dalam satu agenda. Ada pemandangan lain yang mencuri perhatian dalam pelaksanaan Pasporia kali ini.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat Rakha Sukma Purnama hadir langsung di tengah proses pelayanan. Rakha tidak hanya memantau jalannya kegiatan dari kejauhan.
Ia turut berinteraksi dengan masyarakat, memberikan informasi, membantu menjelaskan tahapan pelayanan, serta memastikan pemohon mendapatkan informasi yang diperlukan.
Kehadiran pimpinan di tengah antrean pemohon tersebut membuat batas antara pejabat dan masyarakat terasa lebih cair.
Rakha seolah memilih berada di garis depan bersama petugas, melihat secara langsung bagaimana pelayanan berlangsung dan bagaimana masyarakat merasakan proses tersebut.
“Bagi kami, pelayanan tidak cukup hanya berjalan sesuai prosedur. Kami ingin melihat langsung bagaimana masyarakat menerima layanan, apa yang mereka rasakan, dan apa yang masih perlu kami perbaiki. Karena itu, saya memilih hadir dan berinteraksi langsung dengan pemohon agar kami tidak hanya bekerja dari balik meja,” kata Rakha fi lokasi.
Menurut Rakha, capaian 125 kuota dalam waktu kurang dari dua jam menjadi catatan positif. Namun, kecepatan bukan satu-satunya ukuran.
Pelayanan harus tetap mengedepankan ketepatan prosedur, keramahan, keterbukaan informasi, dan kenyamanan masyarakat.
“Peningkatan dari 100 menjadi 125 kuota tentu menjadi capaian yang kami syukuri. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana peningkatan kapasitas itu tetap dibarengi kualitas pelayanan. Kami ingin masyarakat datang dengan nyaman, mendapatkan informasi yang jelas, dan menyelesaikan kebutuhannya dengan baik,” jelasnya.
Keberhasilan Pasporia CFD tidak hanya dapat dilihat dari angka 125 pemohon. Ada pesan yang lebih besar di balik layanan tersebut.
Imigrasi Jakarta Barat sedang berusaha membangun pola pelayanan yang tidak terpaku pada gedung kantor.
Masyarakat memiliki kesibukan yang berbeda. Ada pekerja yang sulit meninggalkan pekerjaan pada hari kerja, keluarga yang hanya memiliki waktu pada akhir pekan, hingga warga yang ingin mengurus dokumen perjalanan sambil melakukan aktivitas lainnya.
Pelayanan jemput bola menjadi salah satu jawaban terhadap kondisi tersebut.
Dalam konteks ini, keberhasilan 125 permohonan paspor menjadi indikator bahwa masyarakat merespons positif kehadiran layanan di ruang publik.
Semakin cepat pelayanan mampu beradaptasi dengan pola hidup masyarakat, semakin besar pula peluang layanan publik diterima sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari.
Pelaksanaan Pasporia CFD kali ini juga menjadi bagian dari kolaborasi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jakarta bersama Kantor Imigrasi Jakarta Barat untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.
Konsep Sunday Vibes dikemas bukan hanya sebagai aktivitas olahraga. Warga juga dapat memanfaatkan pemeriksaan kesehatan secara gratis yang diberikan oleh Klinik Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim).
Dengan begitu, satu ruang publik di akhir pekan diisi dengan berbagai aktivitas yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
Bagi Imigrasi Jakarta Barat, transformasi pelayanan juga memiliki dimensi yang lebih luas.
Institusi ini sebelumnya sempat menghadapi sorotan terkait persoalan tata kelola pada periode kepemimpinan sebelumnya. Karena itu, membangun kembali kepercayaan masyarakat menjadi pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan slogan.
Di bawah kepemimpinan Rakha Sukma Purnama, berbagai inovasi pelayanan terus didorong untuk memperkuat arah perubahan tersebut.
Pasporia menjadi salah satu wajahnya. Kehadiran pimpinan secara langsung di tengah masyarakat menjadi bagian lainnya.
Sementara percepatan pelayanan hingga mampu melayani 125 kuota dalam waktu kurang dari dua jam menjadi salah satu capaian yang menunjukkan bahwa inovasi tersebut terus bergerak.
Namun, di balik angka tersebut terdapat 125 kebutuhan masyarakat yang dilayani dalam satu pagi. Ada warga yang membutuhkan paspor untuk bepergian. Ada pekerja yang memanfaatkan hari libur. Ada masyarakat yang memilih mengurus paspor sembari menikmati CFD.
Dan ada pula pemohon seperti Linda yang akhirnya tidak perlu mengorbankan waktu kerja demi mendapatkan pelayanan.
Di tengah perubahan ekspektasi publik terhadap pelayanan pemerintah, capaian tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi tidak harus selalu rumit.
Terkadang, inovasi adalah keberanian untuk membawa layanan keluar dari gedung dan menempatkannya di tempat masyarakat berada. (GMO)












