Jakarta, dNewsStar.com – VertaNews.com Minggu pagi biasanya identik dengan olahraga, jalan santai, atau berburu kuliner. Namun, pemandangan berbeda terlihat di sejumlah kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta. Di tengah keramaian warga, layanan keimigrasian justru ikut “turun ke jalan” melalui program PASPORIA (Paspor Minggu Ceria).
Program ini menjadi gebrakan pelayanan publik Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Daerah Khusus Jakarta. Warga kini bisa mengurus paspor sambil menikmati suasana akhir pekan, tanpa perlu mengorbankan waktu kerja.
Sejak 10 Mei hingga 16 Agustus 2026, PASPORIA CFD digelar secara bergiliran oleh kantor-kantor imigrasi di wilayah Jakarta. Sejumlah lokasi strategis menjadi titik pelayanan, mulai dari Bundaran HI, Jalan HR Rasuna Said, Wisma KEIAI, Danau Sunter, hingga kawasan CFD Wali Kota Jakarta Barat.
Dalam periode tersebut, 889 permohonan paspor berhasil dilayani melalui PASPORIA CFD Jakarta.
Angka itu menjadi gambaran bahwa pelayanan keimigrasian yang mendekat kepada aktivitas masyarakat mendapat sambutan positif. PASPORIA tidak sekadar memindahkan loket pelayanan ke ruang publik, tetapi mengubah pengalaman mengurus paspor menjadi lebih fleksibel dan bersahabat.
Bagi masyarakat yang bekerja dari Senin hingga Jumat, layanan akhir pekan menjadi pilihan yang praktis.
Warga dapat mendaftar melalui aplikasi M-Paspor, kemudian mengikuti proses pelayanan sesuai ketentuan di lokasi PASPORIA.
Konsep tersebut membuat CFD tidak hanya menjadi ruang olahraga, tetapi juga menjadi titik temu antara pemerintah dan masyarakat.
Kepala Kanwil Ditjen Imigrasi Jakarta Pamuji Raharja mengatakan PASPORIA merupakan bentuk konkret dari semangat “Imigrasi untuk Rakyat”.
“PASPORIA merupakan wujud nyata semangat Imigrasi untuk Rakyat. Kami ingin masyarakat merasakan bahwa pelayanan Imigrasi hadir lebih dekat, mudah, dan nyaman. Masyarakat dapat berolahraga dan beraktivitas di CFD sekaligus memperoleh pelayanan paspor maupun informasi keimigrasian,” ujar Pamuji, Minggu (16/8).
Menurut Pamuji, inovasi pelayanan harus berangkat dari kebutuhan masyarakat. Karena itu, Imigrasi berupaya menghadirkan layanan yang tidak hanya cepat, tetapi juga mudah dijangkau.
“Pelayanan publik harus memberikan nilai manfaat. Kami tidak ingin masyarakat merasa pelayanan pemerintah itu jauh atau sulit diakses. PASPORIA adalah salah satu cara kami mendekatkan layanan tersebut,” katanya.
PASPORIA juga terus dikembangkan agar tidak berhenti sebagai layanan administrasi paspor.
Pada pelaksanaan 2 dan 9 Agustus 2026, masyarakat mendapatkan layanan tambahan berupa konsultasi keimigrasian terkait izin tinggal Warga Negara Asing (WNA) dan pemeriksaan kesehatan gratis.
Tercatat 13 masyarakat memanfaatkan konsultasi izin tinggal WNA, sedangkan 199 orang memperoleh pemeriksaan kesehatan gratis.
Pemeriksaan kesehatan mencakup pengecekan tekanan darah, kadar gula darah, dan kadar asam urat.
Dengan konsep tersebut, PASPORIA perlahan menjelma menjadi ruang pelayanan publik yang lebih luas. Warga datang untuk mengurus dokumen perjalanan, tetapi pulang membawa informasi dan manfaat tambahan.
Salah satu kantor imigrasi yang menjadi pelaksana PASPORIA adalah Kantor Imigrasi Kelas I TPI Jakarta Timur.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Jakarta Timur Pungki Handoyo mengatakan keterlibatan jajarannya merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan pelayanan yang responsif terhadap kebutuhan warga.
“PASPORIA memberikan alternatif bagi masyarakat yang kesulitan meluangkan waktu pada hari kerja. Kami ingin masyarakat memiliki pilihan waktu pelayanan yang lebih fleksibel tanpa mengurangi kualitas dan standar pelayanan keimigrasian,” ujar Pungki.
Menurut Pungki, pelayanan di ruang publik juga memberikan kesempatan bagi petugas untuk berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat.
Warga dapat bertanya secara langsung mengenai persyaratan paspor, prosedur pelayanan, maupun persoalan keimigrasian lainnya.
“Interaksi langsung dengan masyarakat sangat penting. Petugas dapat memberikan informasi yang benar dan mudah dipahami, sekaligus mendengar kebutuhan masyarakat secara langsung,” tuturnya.
Capaian 889 permohonan paspor menjadi salah satu indikator bahwa konsep pelayanan keimigrasian di ruang publik memiliki daya tarik.
PASPORIA hadir dengan satu pesan sederhana: pelayanan pemerintah harus mengikuti kebutuhan masyarakat, bukan sebaliknya.
Masyarakat yang sibuk bekerja tetap memiliki kesempatan mengurus paspor pada akhir pekan. Warga yang berolahraga di CFD juga bisa memperoleh informasi keimigrasian tanpa harus datang khusus ke kantor.
Bagi Pamuji, capaian tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan inovasi pelayanan.
“Ke depan, kami akan terus mengevaluasi dan mengembangkan PASPORIA agar semakin mudah diakses, responsif, humanis, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Pamuji.
Sementara Pungki menegaskan jajaran Jakarta Timur siap mendukung penguatan pelayanan keimigrasian yang semakin dekat dengan masyarakat.
“Kami akan terus memberikan pelayanan yang profesional, ramah, transparan, dan mudah dipahami masyarakat. Semangatnya adalah Imigrasi untuk Rakyat,” ujarnya.
Dari ramainya CFD Jakarta, PASPORIA mengirimkan pesan yang sederhana tetapi kuat: mengurus paspor tidak harus menunggu hari kerja.
Di tengah langkah kaki warga yang berolahraga dan hiruk-pikuk aktivitas akhir pekan, layanan Imigrasi hadir membawa dokumen perjalanan lebih dekat kepada pemiliknya. (Red)












