JAKARTA, VertaNews.com – Sosok Rudiansyah membuktikan bahwa perjalanan hidup tidak selalu berjalan lurus. Mantan wasit Indonesia Super League (ISL) dan Liga 1 itu pernah meniti karier dari dunia perbankan, menjadi koki di sejumlah hotel berbintang, hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu pengadil lapangan sepak bola nasional.
Saat ditemui di Kandang Ayam Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (17/7/2026), Rudiansyah menceritakan bahwa setelah pensiun sebagai wasit, dirinya masih aktif di dunia sepak bola sebagai pengawas pertandingan PSSI. Ia juga terlibat dalam Liga Jakarta 2026, Liga Suratin U-15 2026, serta pembinaan sepak bola usia dini melalui komunitas COCO.
“Sepak bola sudah menjadi bagian dari hidup saya. Setelah pensiun menjadi wasit, saya tetap ingin berkontribusi. Sekarang saya dipercaya menjadi pengawas pertandingan PSSI, membantu kompetisi usia muda, dan ikut membina sepak bola usia dini. Menurut saya, pengalaman puluhan tahun di lapangan akan lebih bermanfaat kalau dibagikan kepada generasi berikutnya,” ujar Rudiansyah.
Perjalanan kariernya dimulai jauh sebelum mengenakan seragam wasit. Ia sempat bekerja di Bank Dagang Negara dan Bank BDNI sebelum akhirnya beralih ke industri perhotelan.
Dari posisi sebagai pencuci piring di Hotel Aryaduta, Rudiansyah perlahan naik menjadi helper, bekerja di dapur, hingga dipercaya sebagai supervisor. Kariernya kemudian berlanjut ke Grand Hyatt dan Century Park Hotel Senayan.
Di sela kesibukan sebagai koki, kecintaannya terhadap sepak bola tak pernah padam. Berawal sebagai pemain di MBFA Lapangan Banteng, kemudian membela UMS 80 dan Tunas Jaya, ia memutuskan mengambil jalur sebagai wasit ketika usia bermain mulai terbatas.
Rudiansyah mengikuti pendidikan wasit secara bertahap, mulai dari lisensi C3 di Jakarta, naik ke C2 di Manado, hingga C1 Nasional di Semarang. Dari sana kariernya terus berkembang hingga dipercaya memimpin pertandingan Liga Bogasari, Indonesia Super League (ISL), hingga kompetisi Liga 1.
Menurutnya, profesi wasit bukan hanya soal memahami aturan permainan, tetapi juga mengendalikan emosi dan menjaga netralitas di tengah tekanan.
“Yang paling berat bukan meniup peluit, tetapi menjaga kepercayaan. Ketika satu tim kalah, wasit sering dijadikan kambing hitam. Padahal tugas kami hanya menjalankan Laws of the Game. Kalau keputusan sudah sesuai aturan, saya yakin pada akhirnya semua bisa menerima, meski saat pertandingan berlangsung tekanan dari pemain, pelatih, maupun suporter sangat besar,” katanya.
Selama bertugas, ia mengaku tidak asing dengan teriakan, intimidasi, bahkan lemparan dari penonton. Namun, pengalaman itu justru membentuk mentalnya.
“Sebagai wasit kita harus pintar membaca situasi. Diteriaki, dicerca, bahkan dilempari itu pernah saya alami. Tetapi kami tidak boleh terpancing. Senyum sering kali menjadi cara paling sederhana untuk meredakan ketegangan. Yang terpenting, jangan pernah memihak karena sekali kehilangan integritas, habislah kepercayaan kepada wasit,” tuturnya.
Rudiansyah juga menyoroti perkembangan teknologi dalam sepak bola modern. Menurut dia, kehadiran Video Assistant Referee (VAR) telah membantu meminimalkan kesalahan, meski teknologi tidak sepenuhnya menghilangkan kontroversi.
Ia menjelaskan, FIFA juga terus melakukan evaluasi terhadap sistem perwasitan, termasuk pernah menerapkan enam wasit dalam satu pertandingan melalui Additional Assistant Referee (AAR), sebelum akhirnya berkembang ke sistem VAR yang digunakan saat ini.
Di luar dunia sepak bola, Rudiansyah memilih menjadi pengemudi ojek online. Baginya, pekerjaan tersebut bukan semata mengejar penghasilan tambahan, melainkan cara untuk tetap produktif.
“Saya menjadi pengemudi ojek online bukan karena terpaksa. Saya hanya tidak ingin diam di rumah. Saya senang tetap bekerja, bertemu banyak orang, dan menikmati aktivitas setiap hari. Rezeki itu disyukuri saja. Sepak bola sudah memberi saya kesempatan berkeliling Indonesia, sementara menjadi ojol membuat saya tetap merasa berguna dan terus bergerak,” ujar Rudiansyah.
Di akhir perbincangan, ia berharap sepak bola Indonesia terus menjunjung tinggi nilai fair play dan integritas seluruh insan sepak bola.
“Wasit yang jujur sebenarnya banyak. Yang dibutuhkan adalah komitmen semua pihak untuk menjaga sepak bola tetap bersih. Kalau semua menjalankan tugas dengan integritas, saya yakin kualitas sepak bola Indonesia akan terus meningkat,” pungkasnya.












