Riau, VertaNews.com – Menyambut Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia 2026, Belantara Foundation bersama mitra sektor swasta dari Jepang melakukan penanaman bibit pohon secara simbolis di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), Riau, Kamis (11/6/2026). Kegiatan yang melibatkan Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura dan Kelompok Tani Hutan setempat ini menjadi bagian dari upaya mempercepat pemulihan kawasan hutan yang mengalami degradasi.
Salah satu jenis pohon yang ditanam adalah balangeran (Shorea balangeran), spesies lokal yang tergolong langka dan memiliki nilai penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Penanaman tersebut sekaligus menjadi simbol kolaborasi lintas negara dalam mendukung rehabilitasi lingkungan dan pengendalian dampak perubahan iklim.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, menegaskan bahwa restorasi ekosistem kini menjadi agenda global yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, dunia saat ini tengah bergerak menuju target pemulihan 1,5 miliar hektare lahan terdegradasi pada tahun 2030 sebagaimana didorong melalui Dekade Restorasi Ekosistem PBB.
“Pemulihan ekosistem bukan hanya soal menanam pohon, tetapi tentang mengembalikan fungsi alam yang menopang kehidupan. Restorasi hutan berperan penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim, menjaga ketersediaan air, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus melindungi keanekaragaman hayati. Karena itu, keterlibatan sektor swasta dan masyarakat menjadi faktor kunci agar upaya ini dapat berjalan lebih luas dan berkelanjutan,” ujar Dolly.
Momentum Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia yang tahun ini mengusung tema “Rangelands: Recognize. Respect. Restore” dinilai menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk lebih aktif berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan dan memperbaiki kondisi lahan yang rusak.
Dolly menjelaskan, kegiatan penanaman tersebut merupakan bagian dari program “Forest Restoration Project: SDGs Together!” yang telah berjalan sejak tahun 2020. Program tersebut dirancang untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan hutan yang rusak, mulai dari memperbaiki tata air, mengurangi risiko erosi dan longsor, hingga meningkatkan kualitas udara serta habitat satwa liar.
“Pendekatan yang kami gunakan adalah kolaborasi multipihak. Semangat yang kami bangun sejalan dengan prinsip SDGs, yakni tidak meninggalkan siapa pun dalam proses pembangunan berkelanjutan. Melalui kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta Jepang, kami ingin memperkuat gerakan restorasi hutan di Sumatra, khususnya di Provinsi Riau, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lingkungan maupun masyarakat sekitar,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Representative Director APP Japan Ltd., Tan Ui Sian, menyampaikan komitmennya untuk memperluas dukungan dari berbagai pemangku kepentingan di Jepang terhadap program restorasi tersebut. Menurutnya, kolaborasi yang telah terjalin memberikan ruang yang lebih besar untuk membangun partisipasi global dalam upaya pelestarian lingkungan.
“Kami melihat program ini memiliki dampak yang nyata karena tidak hanya berfokus pada pemulihan hutan, tetapi juga menghubungkan berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan. Ke depan, kami ingin mengajak lebih banyak institusi, perusahaan, dan komunitas internasional untuk ikut mengambil bagian dalam gerakan restorasi ini agar manfaatnya semakin luas,” kata Tan.
Sementara itu, Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, menjelaskan bahwa Tahura Sultan Syarif Hasyim yang memiliki luas lebih dari 6.000 hektare saat ini menghadapi tantangan serius akibat deforestasi dan degradasi hutan yang dipicu oleh aktivitas ilegal, seperti perambahan kawasan dan pembalakan liar.
“Kondisi kawasan yang mengalami tekanan cukup berat menuntut adanya upaya pemulihan yang konsisten dan berkelanjutan. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, organisasi lingkungan, masyarakat, dan mitra internasional menjadi sangat penting. Program restorasi yang kami jalankan bersama Belantara Foundation dan mitra Jepang diharapkan mampu mengembalikan fungsi ekologis hutan sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon yang telah ditetapkan pemerintah,” ungkap Sri.
Melalui penanaman pohon dan penguatan kerja sama lintas sektor ini, Belantara Foundation berharap program restorasi hutan di Riau dapat terus berkembang, tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.












