Bogor, VertaNews.com – Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur terus menunjukkan wajah baru pemasyarakatan.
Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal kini disulap menjadi Kawasan Lapas Pangan Mandiri, sebuah pusat pertanian terpadu yang diproyeksikan menjadi penopang ketahanan pangan sekaligus ruang pembinaan keterampilan bagi warga binaan.
Program yang dikembangkan di kawasan Branggang itu dipimpin langsung oleh Kepala Lapas Narkotika Gunung Sindur, Bambang Wijanarko, bersama jajaran pejabat struktural, staf, serta warga binaan yang telah lolos asesmen dan memiliki kompetensi di bidang pertanian.
Berbagai komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, terong, hingga singkong mulai dipersiapkan untuk ditanam. Seluruh hasil panen nantinya akan dimanfaatkan sebagai pasokan bahan baku Dapur Sehat Lapas Narkotika Gunung Sindur, sehingga kebutuhan pangan internal dapat dipenuhi secara lebih mandiri dan berkelanjutan.
Bambang mengatakan program tersebut merupakan bagian dari transformasi pemasyarakatan yang tidak hanya berorientasi pada pembinaan, tetapi juga pemberdayaan warga binaan melalui kegiatan produktif.
“Kami ingin menjadikan setiap potensi yang dimiliki lapas memiliki nilai manfaat. Kawasan Pangan Mandiri ini bukan hanya menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga menjadi tempat warga binaan belajar, bekerja, dan membangun keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujar Bambang kepada Jurnalis Mitra Imigrasi dan Pemasyarakatan (JMIP), Kamis (30/7).
Menurutnya, keterlibatan warga binaan dilakukan secara selektif melalui proses asesmen sehingga setiap peserta ditempatkan sesuai kemampuan dan minat yang dimiliki.
Tak berhenti pada sektor budidaya, kawasan tersebut juga diproyeksikan berkembang menjadi laboratorium UMKM. Di lokasi itu, warga binaan akan memperoleh pengalaman mulai dari teknik budidaya, pengolahan hasil panen, pengemasan produk, hingga pengembangan usaha yang memiliki nilai ekonomi.
Konsep tersebut diharapkan mampu menciptakan siklus pembinaan yang lebih komprehensif, di mana warga binaan tidak hanya memperoleh keterampilan bertani, tetapi juga memahami proses bisnis dan kewirausahaan.
Selain mendukung kebutuhan bahan makanan internal, hasil produksi Kawasan Lapas Pangan Mandiri juga dipersiapkan untuk mendukung kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta membuka peluang pemasaran kepada masyarakat apabila kapasitas produksi terus meningkat.
Program ini sekaligus menjadi implementasi penguatan ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan melalui optimalisasi lahan yang tersedia. Dengan memadukan pembinaan, produktivitas, dan pemberdayaan ekonomi, Lapas Narkotika Gunung Sindur berupaya menghadirkan sistem pemasyarakatan yang semakin modern, mandiri, dan berdampak luas.
Transformasi tersebut memperlihatkan bahwa lembaga pemasyarakatan kini tidak hanya menjadi tempat menjalani masa pidana, tetapi juga ruang lahirnya keterampilan, produktivitas, serta harapan baru bagi warga binaan untuk menata kehidupan setelah bebas. (GMO)












