Jakarta, VertaNews.com — PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai menjalankan langkah besar dalam transformasi energi nasional.
Operator transportasi rel terbesar di Indonesia itu kini menguji penggunaan biodiesel B50 pada lokomotif dan sarana kereta api sebagai bagian dari strategi mengurangi emisi karbon sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Langkah ini menandai fase baru operasional kereta api Indonesia yang selama hampir satu dekade secara bertahap meninggalkan ketergantungan terhadap solar konvensional.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan transformasi menuju B50 bukan sekadar perubahan jenis bahan bakar, melainkan bagian dari upaya membangun sistem transportasi masa depan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“KAI ingin menjadi bagian dari solusi energi nasional. Transisi menuju B50 menunjukkan bahwa transportasi publik mampu beradaptasi dengan agenda keberlanjutan tanpa mengorbankan keselamatan dan kualitas layanan,” kata Bobby.
Sejak 2017, KAI telah mengikuti roadmap pemerintah dalam penggunaan biodiesel. Perjalanan dimulai dari B0, kemudian meningkat ke B20, B30, B35, hingga B40 yang saat ini digunakan dalam operasional kereta api.
Kini, KAI memasuki tahap pengujian B50 yang digadang-gadang menjadi tonggak baru transportasi rendah emisi di Indonesia.
Pengujian dilakukan bersama Kementerian ESDM dengan menggunakan lokomotif CC206 yang menarik rangkaian KA Sembrani serta genset pada KA Bogowonto.
Serangkaian pengujian dilakukan untuk mengukur performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas operasional, emisi gas buang, hingga ketahanan sarana dalam kondisi kerja penuh.
KAI memperkirakan implementasi B50 mampu memangkas emisi karbon hingga 133.676 ton CO₂e dalam periode program dekarbonisasi perusahaan 2025–2030.
Angka tersebut menjadi kontribusi terbesar dalam agenda pengurangan emisi perusahaan yang menargetkan total penurunan sebesar 166.873 ton CO₂e.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menegaskan bahwa setiap tahapan transisi energi dilakukan dengan prinsip utama menjaga keselamatan dan keandalan operasional.
“Kami tidak hanya berbicara soal energi yang lebih bersih, tetapi juga memastikan seluruh sarana tetap bekerja optimal. Semua proses dilakukan melalui pengujian teknis yang ketat sebelum diterapkan secara luas,” ujar Anne.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tekanan global untuk menurunkan emisi karbon, sektor transportasi menjadi salah satu arena penting perubahan.
KAI menilai penggunaan biodiesel berbasis bahan baku domestik dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor sekaligus memperkuat industri energi nasional.
Selain itu, kereta api dinilai memiliki posisi strategis karena melayani jutaan penumpang dan distribusi logistik setiap tahun dengan tingkat efisiensi energi yang lebih baik dibanding moda transportasi darat lainnya.
Data KAI menunjukkan hingga awal Juni 2026, perusahaan telah menggunakan lebih dari 95 juta liter bahan bakar untuk mendukung operasional nasional.
Bagi KAI, transisi menuju B50 bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjawab tantangan masa depan transportasi.
Bobby menegaskan bahwa keberhasilan transformasi energi tidak hanya diukur dari penurunan emisi, tetapi juga dari kemampuan menjaga layanan publik tetap aman, terjangkau, dan andal.
“Kereta api memiliki peran penting dalam masa depan energi Indonesia. Kami ingin memastikan transportasi publik tidak hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari solusi terhadap tantangan lingkungan,” tegasnya.
Dengan dimulainya uji B50, jalur rel Indonesia kini bukan hanya menghubungkan kota dan wilayah, tetapi juga menjadi jalur strategis menuju era energi hijau nasional. (GMO)












