Berita  

119 Kecelakaan dalam 5 Bulan, KAI Tutup Ratusan Perlintasan Berbahaya

Jakarta, VertaNews.com – PT Kereta Api Indonesia (KAI) mempercepat penutupan perlintasan sebidang berisiko tinggi setelah angka kecelakaan kereta api sepanjang 2026 masih memprihatinkan.

Dalam lima bulan pertama tahun ini, tercatat 119 kecelakaan di perlintasan sebidang yang menewaskan 43 orang.

Perkembangan penanganan perlintasan tersebut dilaporkan langsung Direktur Utama Bobby Rasyidin kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan.

Hingga 4 Juni 2026, KAI bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat kewilayahan, dan pemangku kepentingan lainnya telah menutup 119 dari 172 perlintasan sebidang prioritas yang menjadi target penanganan nasional tahun ini.

Selain itu, KAI juga tengah menangani 490 perlintasan liar dan memperkuat sistem keselamatan di 1.148 titik perlintasan aktif di seluruh wilayah operasional.

“Keselamatan di perlintasan sebidang menjadi fokus utama kami. Penutupan perlintasan prioritas dilakukan untuk mengurangi titik-titik rawan kecelakaan yang selama ini mengancam keselamatan masyarakat dan perjalanan kereta api,” kata Bobby, belum lama ini.

Mayoritas Kecelakaan Dipicu Pelanggaran Pengguna Jalan
Data KAI menunjukkan kecelakaan di perlintasan sebidang masih didominasi faktor manusia.

Dari 119 kecelakaan yang terjadi sejak Januari hingga awal Juni 2026, sebanyak 97 orang menjadi korban. Rinciannya, 43 orang meninggal dunia, 23 orang mengalami luka berat, dan 31 lainnya luka ringan.

KAI mencatat 87 persen kecelakaan terjadi karena pengendara tetap menerobos perlintasan saat kereta api akan melintas. Sementara itu, 52 persen insiden berlangsung di perlintasan tanpa palang pintu.

Angka tersebut menunjukkan bahwa rendahnya kepatuhan pengguna jalan masih menjadi ancaman terbesar dalam keselamatan transportasi berbasis rel.

Persoalan perlintasan sebidang bukan masalah baru. Data KAI mencatat sepanjang 2022 hingga 2025 terjadi 1.244 kecelakaan di perlintasan kereta api.

Sebanyak 913 kejadian atau sekitar 73 persen terjadi di perlintasan tidak terjaga.

Dalam periode tersebut, total korban mencapai 1.152 orang, terdiri dari 437 korban meninggal dunia, 294 korban luka berat, dan 421 korban luka ringan.

Tingginya angka kecelakaan membuat penutupan perlintasan berisiko menjadi salah satu program prioritas nasional di sektor transportasi.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan setiap lokasi yang ditutup telah melalui kajian keselamatan yang ketat.

Menurutnya, penanganan dilakukan berdasarkan tingkat risiko, intensitas perjalanan kereta, kondisi lingkungan sekitar, serta potensi ancaman terhadap pengguna jalan.

“Setiap perlintasan berisiko yang berhasil ditangani berarti ada potensi kecelakaan yang berhasil dicegah. Keselamatan bukan hanya tanggung jawab operator, tetapi membutuhkan disiplin dan kesadaran seluruh pengguna jalan,” ujar Anne.

Anne menegaskan keberhasilan menutup 119 perlintasan prioritas mencerminkan semakin kuatnya kolaborasi antara KAI, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam membangun budaya keselamatan transportasi.

KAI masih memburu penyelesaian 53 titik prioritas yang tersisa agar target penutupan 172 perlintasan berisiko pada 2026 dapat tercapai.

Selain penutupan fisik, perusahaan juga terus menjalankan kampanye keselamatan secara masif.

Dalam empat tahun terakhir, KAI telah menggelar lebih dari 6.200 kegiatan sosialisasi, menutup 1.024 perlintasan liar, memasang 2.646 spanduk peringatan, dan melaksanakan hampir seribu program edukasi di sekolah serta lingkungan masyarakat sekitar jalur rel.

Bagi KAI, persoalan perlintasan sebidang bukan hanya soal infrastruktur, melainkan soal menyelamatkan nyawa.

“Keselamatan adalah investasi sosial yang manfaatnya dirasakan banyak orang. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk selalu berhenti, melihat, mendengar, dan mendahulukan perjalanan kereta api saat melintasi perlintasan sebidang,” kata Anne. (GMO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *