Bogor, VertaNews.com – Di tengah upaya pemerintah memperkuat program ketahanan pangan nasional, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur menunjukkan pendekatan berbeda.
Dari lahan terbatas di dalam kompleks lapas, petugas bersama warga binaan berhasil memanen 110 kilogram hasil pertanian, terdiri dari 50 kilogram terong dan 60 kilogram daun singkong.
Hasil panen tersebut tidak dijual ke luar, melainkan langsung disalurkan ke dapur sehat lapas untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga binaan.
Panen dilakukan di dua lokasi berbeda.
Terong dibudidayakan menggunakan sistem polybag di area samping lapangan utama, sementara daun singkong ditanam di kawasan Brandang yang selama ini dimanfaatkan sebagai lahan pertanian produktif.
Keberhasilan panen ini menjadi bagian dari program pembinaan berbasis ketahanan pangan yang terus dikembangkan Lapas Narkotika Gunung Sindur.
Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP) Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Bagus Dwi Siswandono, mengatakan program tersebut tidak hanya bertujuan menghasilkan bahan pangan, tetapi juga membangun keterampilan dan budaya kerja bagi warga binaan.
“Kami ingin memastikan setiap program pembinaan memberikan manfaat nyata. Melalui kegiatan pertanian ini, warga binaan belajar disiplin, tanggung jawab, dan keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat. Hasil panen yang diperoleh juga mendukung kebutuhan pangan di lingkungan lapas,” kata Bagus Dwi Siswandono, Jumat (12/6/2026).
Menurut dia, pemanfaatan lahan yang sebelumnya tidak optimal kini mampu menghasilkan komoditas yang dapat dimanfaatkan secara langsung untuk kebutuhan internal.
Program ketahanan pangan tersebut juga menjadi bagian dari transformasi pemasyarakatan yang menempatkan pembinaan sebagai fokus utama.
Warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga dilibatkan dalam aktivitas produktif yang memiliki nilai ekonomi dan sosial.
Selain membantu memenuhi kebutuhan dapur sehat, kegiatan bercocok tanam dinilai mampu membangun pola pikir positif serta meningkatkan rasa tanggung jawab warga binaan selama menjalani masa pembinaan.
Bagus menegaskan pihaknya akan terus memperluas program pertanian dengan mengembangkan berbagai komoditas lain yang sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan lapas.
“Harapannya program ini terus berkembang. Semakin banyak hasil yang bisa diproduksi, semakin besar pula manfaat yang dirasakan, baik bagi warga binaan maupun untuk mendukung ketahanan pangan di lingkungan lapas,” ujarnya.
Keberhasilan panen 110 kilogram sayuran ini menjadi gambaran bahwa di balik tembok pemasyarakatan, aktivitas pembinaan terus berjalan melalui program-program produktif yang berorientasi pada kemandirian dan kesiapan warga binaan menghadapi kehidupan setelah bebas. (GMO)












