Alzheimer Bukan Sekadar Pikun, Dr. Frenky Tekankan Pentingnya Dukungan Keluarga

Jakarta Selatan, 12 Mei 2026 — Penyakit Alzheimer masih sering disalahartikan sebagai pikun biasa oleh masyarakat. Padahal, menurut Dr. Frenky, Alzheimer merupakan gangguan neurodegeneratif pada otak yang menyebabkan penurunan fungsi memori, kemampuan berpikir, hingga perubahan perilaku yang berdampak besar pada kualitas hidup pasien.

Hal tersebut disampaikan Dr. Frenky dalam wawancara di kawasan Seputar Mall, Jakarta Selatan,Senin(12/05/2026).

“Alzheimer itu sebenarnya salah satu jenis dari demensia. Kalau demensia itu payung besarnya, Alzheimer adalah salah satu bentuknya.

Kondisinya menyebabkan gangguan memori, kesulitan mengambil keputusan, perubahan perilaku, bahkan aktivitas sehari-hari,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa Alzheimer berbeda dengan pikun biasa akibat penuaan. Pada kondisi pikun normal, seseorang umumnya masih dapat mengingat kembali setelah diberikan petunjuk. Sementara pada Alzheimer, terjadi kerusakan fungsi otak yang lebih serius.“Kalau pikun biasa biasanya ketika diingatkan dia masih bisa ingat lagi.

Tapi Alzheimer berbeda, karena terjadi gangguan neurodegeneratif pada otak. Pasien bisa lupa anggota keluarganya sendiri, lupa tempat yang sebelumnya familiar, sampai kesulitan mengambil keputusan,” ujarnya.

Menurut Dr. Frenky, hingga saat ini penyebab pasti Alzheimer belum diketahui secara pasti secara medis. Namun sejumlah faktor risiko diketahui berperan besar, seperti usia lanjut, riwayat genetik, hipertensi, diabetes, kolesterol, pola hidup tidak sehat, merokok, konsumsi alkohol, hingga stres kronis dan depresi berkepanjangan.

“Faktor risiko itu banyak. Mulai dari penyakit metabolik seperti hipertensi dan diabetes, pola makan, pola hidup, merokok, alkohol, sampai depresi berkepanjangan juga berpengaruh,” katanya.

Ia menjelaskan, Alzheimer umumnya muncul pada usia di atas 60 tahun dan risikonya meningkat pada usia 70 hingga 80 tahun. Namun dalam beberapa kasus, penyakit ini juga dapat muncul lebih dini atau dikenal sebagai early onset Alzheimer pada rentang usia 40 hingga 60 tahun.Terkait pengobatan, Dr. Frenky menyebut hingga kini belum ada terapi yang mampu menyembuhkan Alzheimer secara total. Penanganan yang dilakukan lebih berfokus untuk memperlambat progresivitas penyakit dan mempertahankan kualitas hidup pasien.

“Obat yang ada sekarang bukan untuk menyembuhkan, tapi membantu mengurangi penurunan fungsi otak dan memperlambat progresivitasnya,” jelasnya.

Selain terapi medis, pasien juga membutuhkan terapi nonmedis berupa stimulasi otak melalui aktivitas sehari-hari seperti mengobrol, mendengarkan musik, bermain puzzle, hingga tetap aktif bersosialisasi.“Otak itu harus terus distimulasi. Diajak ngobrol, berpikir, bermusik, bermain game puzzle, itu membantu memperlambat progresivitas Alzheimer,” ujar Dr. Frenky.

Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya dukungan keluarga dalam pendampingan pasien Alzheimer. Menurutnya, banyak penderita yang justru dianggap berpura-pura lupa atau mencari perhatian, padahal mereka mengalami penurunan fungsi otak yang nyata.

“Ini bukan sekadar masalah lupa ingatan. Ini perjuangan pasien mempertahankan identitas diri dan hubungan kasih sayang dalam keluarga,” tuturnya.

Karena itu, ia menilai penanganan Alzheimer tidak cukup hanya mengandalkan tenaga medis maupun psikolog. Kehadiran keluarga dengan penuh kesabaran, empati, dan kasih sayang menjadi faktor utama dalam menjaga kondisi emosional pasien.“Keluarga harus menciptakan situasi yang aman, jangan membentak, berbicara perlahan, dan mendampingi pasien. Kadang mereka lebih membutuhkan cinta dan perhatian dari orang terdekat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *