JAKARTA, VertaNews.com – Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menegaskan posisinya sebagai tulang punggung ekosistem filantropi nasional dalam Rapat Umum Anggota (RUA) yang digelar di Gedung IPMI International Business School, Jakarta. Di tengah tantangan pembangunan yang semakin kompleks dan menurunnya bantuan internasional, PFI hadir sebagai solusi kolaboratif yang terintegrasi, transparan, dan berdampak nyata.
Tahun 2025 menjadi tahun konsolidasi bagi PFI. Organisasi ini mencatat pertumbuhan signifikan dengan jumlah anggota mencapai 252 organisasi, mencerminkan meningkatnya kepercayaan lintas sektor terhadap peran filantropi dalam pembangunan Indonesia. Tidak hanya sekadar bertambahnya jumlah, kualitas kolaborasi juga diperkuat melalui berbagai inisiatif strategis.
Dari Jejaring Menjadi Ekosistem Kolaboratif
Ketua Badan Pengurus PFI, Rizal Algamar, menekankan bahwa filantropi modern tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ia menyebut PFI telah bertransformasi dari sekadar wadah jejaring menjadi “Filantropi Hub” yang aktif mendorong pembelajaran berbasis data dan aksi kolektif.
“Sepanjang 2025, kami memperkuat peran PFI sebagai hub nasional. Kami tidak hanya berkumpul, tapi membangun pengetahuan berbasis data, memperluas kolaborasi lintas sektor, dan menjalankan kampanye publik yang mendorong praktik filantropi yang lebih terintegrasi,” ujar Rizal dalam sambutannya.
Salah satu bukti nyata dari transformasi ini adalah peluncuran Piagam Budaya Filantropi, sebuah kerangka nilai bersama untuk memastikan setiap aksi filantropi dilakukan secara etis, transparan, dan kontekstual. PFI juga menghasilkan tujuh publikasi strategis dan policy brief yang menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan lainnya.
Sinergi Hingga Tingkat Desa
PFI juga berhasil mengaktifkan Multi-Stakeholder Forum (MSF) yang melibatkan aliansi dengan Forum Zakat dan Humanitarian Forum Indonesia, serta didukung oleh 25 kolaborator dan enam mitra pengetahuan. Inisiatif ini memastikan bahwa intervensi filantropi tidak berhenti di level nasional, tetapi menyentuh garda terdepan, yaitu pemerintahan desa.
Johan Tandoko dari Yayasan Makna Karya Berdaya, salah satu anggota PFI, merasakan langsung dampak dari ekosistem ini. “PFI bukan lagi sekadar jejaring. Ia telah berkembang menjadi ekosistem kolaboratif yang mempertemukan lembaga-lembaga untuk menciptakan praktik filantropi yang strategis, akuntabel, dan transparan,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Anton Rizki dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menambahkan, “PFI berperan vital sebagai platform yang menyatukan berbagai organisasi untuk saling belajar, memperkuat kapasitas, dan membuka akses ke jejaring strategis yang sebelumnya sulit dijangkau.”
Ekspansi Regional dan Dampak Global
Untuk memastikan dampak yang lebih merata, PFI memperkuat chapter daerahnya di Makassar dan Surabaya. Langkah ini bertujuan agar solusi filantropi lebih responsif terhadap kebutuhan lokal. Melalui lebih dari 24 forum diskusi reguler dan Filantropi Indonesia Festival 2025 (FIFest2025) yang melibatkan 3.750 partisipan, PFI berhasil menjangkau audiens seluas 3,4 juta orang melalui berbagai kanal media.
Di tengah dinamika global, PFI melihat filantropi sebagai katalisator perubahan melalui inovasi pendanaan sosial dan penguatan kemitraan. Dengan komitmen untuk terus mendorong kebijakan yang kondusif, PFI bertekad memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan memberikan dampak terukur bagi keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
“Filantropi adalah tentang kepercayaan. Dan melalui PFI, kepercayaan itu diubah menjadi aksi nyata yang mengubah hidup masyarakat,” tutup seorang perwakilan donor dalam acara RUA tersebut.








