Berita  

100 Paspor Imigrasi Jakarta Barat Tumpah di CFD Sudirman

 

Jakarta, VertaNews.com – Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat menjawab kebutuhan warga urus paspor dengan inovasi layanan paspor akhir pekan.

 

Program PASPORIA yang digelar di Wisma KEIAI, Jalan Jenderal Sudirman, bertepatan dengan Car Free Day (CFD), Minggu (1/11/2026), tidak hanya menghadirkan pelayanan keimigrasian, tetapi juga membangun suasana kebersamaan melalui kegiatan senam pagi.

 

Masyarakat diajak memulai hari libur dengan tubuh bugar dan suasana ceria. Pada saat bersamaan, petugas imigrasi tetap bersiaga melayani permohonan paspor.

 

Respons masyarakat terbilang tinggi. Dalam waktu sekitar 2,5 jam, jumlah pemohon yang mendapatkan pelayanan telah melampaui 100 orang.

 

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa fleksibilitas waktu menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas akses pelayanan paspor, terutama bagi kelompok pekerja yang memiliki keterbatasan waktu pada hari kerja.

 

Bagi masyarakat, PASPORIA bukan sekadar layanan tambahan. Program ini menjadi kesempatan untuk menyelesaikan kebutuhan administrasi perjalanan tanpa harus mengorbankan kewajiban pekerjaan.

 

Salah satu pemohon, Echa, mengaku sengaja memanfaatkan PASPORIA karena kesibukannya bekerja dari pagi hingga sore.

 

Bahkan, ia sempat salah mendatangi lokasi setelah membaca informasi kegiatan yang diselenggarakan Imigrasi Jakarta Barat. Awalnya, Echa datang ke kawasan CFD Puri. Setelah memeriksa kembali pengumuman, ia mengetahui bahwa pelayanan PASPORIA berlangsung di Wisma KEIAI, Jalan Sudirman.

 

Meski sempat salah lokasi dan tiba ketika kegiatan hampir selesai, Echa tetap memperoleh pelayanan.

 

Ia menilai keramahan petugas dan kemudahan akses menjadi nilai lebih dari program tersebut.

 

“Event PASPORIA ini sangat membantu bagi para pekerja yang sibuk dari Senin sampai Jumat dan hanya punya waktu saat akhir pekan. Pelayanannya top banget. Petugasnya ramah, dan kami bisa membuat paspor pada hari Minggu tanpa perlu mengajukan cuti,” ujar Echa di lokasi.

 

Ia juga sengaja mengurus paspor lebih awal untuk mempersiapkan kebutuhan perjalanan menjelang libur akhir tahun.

 

Pengalaman Echa menggambarkan persoalan yang kerap dihadapi masyarakat perkotaan. Di tengah rutinitas pekerjaan, waktu untuk mengurus dokumen administrasi sering kali menjadi kendala tersendiri.

 

Karena itu, pelayanan akhir pekan menjadi alternatif yang memberikan keleluasaan bagi masyarakat dalam menentukan waktu pengurusan paspor.

 

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat, Rakha Sukma Purnama, menilai inovasi pelayanan perlu terus dikembangkan agar masyarakat memperoleh akses yang lebih mudah, cepat, dan nyaman.

 

Menurutnya, PASPORIA merupakan bagian dari upaya menghadirkan pelayanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya mereka yang tidak leluasa meninggalkan pekerjaan pada hari biasa.

 

“Pelayanan keimigrasian harus terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Melalui PASPORIA, kami ingin memberikan alternatif bagi warga, terutama para pekerja, agar tetap bisa mengurus paspor tanpa harus mengganggu aktivitas pekerjaan mereka. Kami berkomitmen menghadirkan pelayanan yang ramah, profesional, dan memberikan kemudahan bagi setiap pemohon,” jelas Rakha kepada Jurnalis Mitra Imigrasi dan Pemasyarakatan (JMIP).

 

Rakha juga dapat menegaskan bahwa strategi jemput bola menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas jangkauan pelayanan. Upaya tersebut dilakukan melalui inovasi layanan di ruang publik, sosialisasi aktif, serta penguatan titik-titik pelayanan yang mudah dijangkau masyarakat.

 

“Strategi jemput bola bukan hanya menghadirkan petugas di luar kantor, tetapi juga memastikan masyarakat mengetahui dan memahami berbagai pilihan layanan keimigrasian. Kami ingin pelayanan Imigrasi Jakarta Barat semakin dekat dengan aktivitas masyarakat, sehingga akses terhadap layanan paspor tidak lagi menjadi kendala,” tambahnya.

 

Pendekatan tersebut menjadi penting karena pelayanan publik tidak cukup hanya tersedia. Masyarakat juga perlu mengetahui lokasi, persyaratan, prosedur, dan pilihan waktu pelayanan secara jelas.

 

Transformasi pelayanan keimigrasian juga diperkuat melalui penyeragaman identitas titik layanan di luar kantor imigrasi.

 

Imigrasi Indonesia menetapkan nama Beranda Imigrasi sebagai identitas tunggal bagi 254 titik layanan keimigrasian di luar Kantor Imigrasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

 

“Titik layanan tersebut terdiri atas 156 Mal Pelayanan Publik (MPP), 33 Unit Layanan Paspor (ULP), 20 Immigration Lounge, 16 LTSP/LTSA, 15 Unit Kerja Kantor Imigrasi, 13 Ultima I’M SeZ, dan satu Immigration Corner,” Rakha menyebutkan.

 

Penyeragaman nama ini bertujuan memudahkan masyarakat mengenali sekaligus menemukan lokasi pelayanan keimigrasian di ruang publik.

 

Identitas baru tersebut juga diterapkan pada Google Maps dan aplikasi M-Paspor menggunakan format nama “Beranda Imigrasi” yang diikuti nama lokasi.

 

Sebagai bagian dari penyesuaian tersebut, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat pada Rabu (28/10/2026) meresmikan perubahan nama dan identitas visual pada tiga titik layanan.

 

Ketiganya adalah ULP Lippo Mall Puri menjadi Beranda Imigrasi Lippo Mall Puri, ULP Daan Mogot menjadi Beranda Imigrasi Daan Mogot, serta Immigration Lounge Mal Taman Anggrek menjadi Beranda Imigrasi Mal Taman Anggrek.

 

Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun identitas pelayanan yang lebih seragam dan mudah dikenali masyarakat. Dengan demikian, warga memiliki referensi yang lebih jelas ketika mencari layanan imigrasi di pusat perbelanjaan maupun fasilitas pelayanan publik lainnya.

 

Tingginya antusiasme masyarakat dalam PASPORIA menjadi pengingat bahwa kualitas pelayanan tidak hanya diukur dari kecepatan penyelesaian administrasi.

 

Kemudahan akses, fleksibilitas waktu, keramahan petugas, serta kejelasan informasi juga menjadi bagian penting dari pengalaman masyarakat ketika berhadapan dengan pelayanan publik.

 

Melalui PASPORIA dan penguatan Beranda Imigrasi, Imigrasi Jakarta Barat berupaya memperluas jangkauan pelayanan agar semakin dekat dengan kebutuhan warga.

 

Pada akhirnya, pelayanan publik yang baik bukan sekadar menunggu masyarakat datang ke kantor. Pelayanan harus mampu bergerak, beradaptasi, dan hadir di tengah aktivitas masyarakat. (GMO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *