Jakarta, VertaNews.com – Perubahan perilaku tidak hanya membutuhkan aturan dan kedisiplinan, tetapi juga proses pembinaan yang menyentuh aspek moral dan spiritual. Prinsip tersebut menjadi salah satu perhatian Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Jakarta dalam mengembangkan pembinaan bagi warga binaan.
Komitmen itu terlihat dari kehadiran Kepala Lapas Narkotika Jakarta, Aliandra Harahap, dalam pembukaan Festival Santri Qur’ani 2026 yang diselenggarakan Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah, Kamis (22/10/2026).
Aliandra hadir bersama Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik (Kasi Binadik) serta jajaran pembina keagamaan Lapas Narkotika Jakarta. Festival yang berlangsung pada 22–25 Oktober 2026 tersebut menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, bagi jajaran Lapas Narkotika Jakarta, partisipasi dalam kegiatan itu juga memiliki arti lebih luas. Kehadiran tersebut menjadi kesempatan membangun hubungan dengan lembaga keagamaan yang dapat mendukung pengembangan program pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.
Aliandra mengatakan, kegiatan keagamaan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, menumbuhkan kedisiplinan, dan memperkuat pegangan moral seseorang.
“Kami sangat mendukung kegiatan positif seperti Festival Santri Qur’ani ini. Nilai-nilai keagamaan bukan hanya menjadi landasan dalam membentuk karakter generasi muda, tetapi juga menjadi bagian penting dalam proses pembinaan warga binaan agar mereka memiliki bekal spiritual dan moral untuk menjalani kehidupan yang lebih baik,” ujar Aliandra kepada Jurnalis Mitra Imigrasi dan Pemasyarakatan (JMIP), Jumat (23/10).
Pembinaan warga binaan merupakan proses yang membutuhkan kesinambungan. Selain menjalani program yang diselenggarakan di dalam lapas, warga binaan juga perlu memiliki bekal untuk menghadapi tantangan ketika kembali ke lingkungan sosialnya.
Dalam konteks tersebut, pembinaan kerohanian menjadi salah satu pendekatan untuk mendorong refleksi diri dan memperkuat nilai-nilai positif. Harapannya, proses pembinaan tidak berhenti pada aktivitas selama menjalani masa pidana, tetapi turut mendukung perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Aliandra menegaskan bahwa warga binaan perlu memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan masa depan setelah menyelesaikan masa pidana.
“Kami berharap sinergi yang telah terjalin dengan berbagai lembaga keagamaan dapat terus diperkuat. Pembinaan bukan hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi juga tentang memberikan kesempatan bagi setiap warga binaan untuk memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik ketika kembali ke masyarakat,” katanya.
Hubungan antara lembaga pemasyarakatan dan institusi keagamaan dinilai dapat membuka peluang pengembangan program pembinaan yang lebih berkelanjutan. Melalui kolaborasi tersebut, penguatan spiritual dan pembentukan karakter diharapkan memperoleh dukungan dari berbagai pihak.
Kehadiran Lapas Narkotika Jakarta dalam Festival Santri Qur’ani 2026 pun menjadi bagian dari upaya mempererat silaturahmi dengan Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah sekaligus memperkuat komunikasi antarlembaga.
Ke depan, sinergi dengan lembaga pendidikan dan keagamaan diharapkan dapat terus dikembangkan untuk mendukung pembinaan kerohanian warga binaan.
Pada akhirnya, keberhasilan pemasyarakatan tidak hanya berkaitan dengan proses menjalani hukuman, tetapi juga dengan upaya mempersiapkan seseorang agar dapat kembali ke masyarakat dengan sikap yang lebih baik, bertanggung jawab, dan mampu membangun masa depan secara positif. (GMO)












