Berita  

Imigrasi Cilegon Bongkar Jebakan TPPO di Depan Siswa SMK

 

Cilegon, VertaNews.com — Tawaran kerja di luar negeri dengan gaji besar bisa terdengar seperti tiket menuju masa depan cerah. Namun, di balik janji manis itu, ada risiko yang tidak boleh dianggap remeh.

 

Kantor Imigrasi Cilegon melalui Tim Imigrasi Pembina Desa (PIMPASA) turun langsung ke sekolah untuk membekali pelajar agar tidak mudah terjebak dalam bujuk rayu keberangkatan ke luar negeri yang tidak jelas.

 

Edukasi tersebut digelar di SMK Pembangunan Cilegon, Kamis (17/9), melalui kegiatan Sosialisasi dan Penyuluhan Hukum Keimigrasian. Para siswa tidak hanya dikenalkan dengan urusan paspor, tetapi juga diajak mengenali potensi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Penyelundupan Manusia (TPPM).

 

Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dan diikuti kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, serta para siswa. Dari Kantor Imigrasi Cilegon, kegiatan dihadiri Kepala Subseksi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian, Kepala Subseksi Intelijen Keimigrasian, dan jajaran PIMPASA.

 

Sejak awal kegiatan, pesan yang disampaikan cukup jelas: jangan sampai keinginan meraih masa depan di luar negeri justru membawa seseorang masuk ke situasi yang membahayakan.

 

Tim PIMPASA menjelaskan peran Imigrasi sekaligus mengajak siswa memahami berbagai risiko mobilitas lintas negara.

 

Pelajar dibekali pengetahuan mengenai modus yang dapat mengarah pada TPPO dan TPPM, terutama yang menyasar orang-orang yang tergiur pekerjaan atau keberangkatan ke luar negeri tanpa mengetahui prosedur secara utuh.

 

Kepala Kantor Imigrasi Cilegon Aditya Triputranto mengatakan edukasi sejak bangku sekolah penting karena generasi muda merupakan kelompok yang berpotensi melakukan perjalanan ke luar negeri untuk bekerja, belajar maupun keperluan lainnya.

 

“Edukasi keimigrasian kepada generasi muda menjadi langkah penting untuk membangun kewaspadaan terhadap berbagai risiko perjalanan ke luar negeri. Melalui PIMPASA, kami ingin informasi keimigrasian dapat diterima secara langsung dan mudah dipahami masyarakat,” ujar Aditya dalam siaran pers, Sabtu (19/9).

 

Menurut Aditya, pemahaman tersebut diharapkan membuat siswa lebih bijak ketika merencanakan perjalanan ke luar negeri.

 

Artinya, sebelum membeli tiket pesawat atau menerima tawaran pekerjaan, calon pelancong harus terlebih dahulu memahami dokumen, jalur keberangkatan, tujuan perjalanan, serta legalitas kegiatan yang akan dilakukan di negara tujuan.

 

Pesan lain disampaikan Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Ida Bagus.

Ia mengingatkan siswa agar tidak gampang percaya terhadap tawaran bekerja atau berangkat ke luar negeri yang menawarkan keuntungan besar, tetapi minim informasi dan prosedur.

 

“Kami mengingatkan para siswa agar tidak mudah percaya terhadap tawaran pekerjaan atau keberangkatan ke luar negeri yang menjanjikan keuntungan besar tanpa informasi dan prosedur yang jelas,” kata Ida Bagus.

 

Menurut dia, kewaspadaan harus dibangun sejak dini. Informasi yang benar dapat menjadi benteng pertama sebelum seseorang mengambil keputusan yang berkaitan dengan perjalanan lintas negara.

 

Sebab, ketika seseorang sudah berada di luar negeri, persoalan yang muncul akibat keberangkatan ilegal atau informasi yang menyesatkan bisa menjadi jauh lebih rumit.

 

Dalam kegiatan tersebut, siswa juga mendapatkan penjelasan mengenai tata cara pembuatan paspor. Tim PIMPASA menjelaskan alur pelayanan dan pentingnya mengikuti prosedur resmi dalam memperoleh dokumen perjalanan.

 

Edukasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman bahwa paspor bukan sekadar dokumen yang diperlukan ketika seseorang hendak bepergian.

 

Ada aturan dan tanggung jawab yang melekat di balik setiap perjalanan lintas negara.

Karena itu, siswa didorong untuk tidak mengurus dokumen melalui pihak yang menawarkan jalan pintas maupun mempercayakan data pribadi kepada orang yang tidak memiliki kewenangan.

 

Suasana kegiatan semakin hidup ketika sesi diskusi dibuka. Para siswa aktif menyampaikan pertanyaan kepada petugas. Topik yang dibahas tidak hanya berkaitan dengan paspor, tetapi juga layanan keimigrasian dan persoalan yang mungkin dihadapi ketika melakukan perjalanan ke luar negeri.

 

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa isu keimigrasian cukup dekat dengan rencana masa depan generasi muda.

 

Bagi Kantor Imigrasi Cilegon, sekolah menjadi salah satu pintu penting untuk menyebarkan literasi keimigrasian.

 

Melalui PIMPASA, edukasi tidak berhenti pada pelayanan administratif, tetapi diperluas menjadi upaya pencegahan agar masyarakat memahami risiko sebelum mengambil keputusan.

 

Kegiatan di SMK Pembangunan Cilegon berlangsung tertib dan mendapat sambutan positif dari pihak sekolah. Kantor Imigrasi Cilegon memastikan edukasi serupa akan terus diperkuat melalui sinergi dengan satuan pendidikan dan masyarakat.

 

Sebab, mimpi bekerja atau bepergian ke luar negeri boleh setinggi langit. Tetapi sebelum terbang, pastikan jalannya resmi, dokumennya benar, dan tawarannya benar-benar aman. (GMO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *