Jakarta, VertaNews.com – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) mendapat apresiasi dari Pusat Lembaga Pemasyarakatan Militer (Puslemasmil) atas transformasi program pembinaan yang kini berfokus pada penguatan kemandirian warga binaan melalui pelatihan keterampilan dan pengembangan sektor produktif.
Apresiasi tersebut disampaikan dalam audiensi antara jajaran Ditjenpas dan Puslemasmil di Kantor Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026).
Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antarlembaga sekaligus bertukar pengalaman mengenai pelaksanaan program pembinaan yang berorientasi pada pemberdayaan dan reintegrasi sosial warga binaan.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi mengatakan transformasi yang dijalankan Ditjenpas merupakan bagian dari perubahan paradigma pemasyarakatan yang tidak lagi hanya menitikberatkan pada aspek pengamanan, tetapi juga pada pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Menurut dia, salah satu program yang menjadi fokus pengembangan saat ini berada di kawasan Nusakambangan yang diarahkan menjadi pusat ketahanan pangan sekaligus lokasi pembinaan keterampilan kerja bagi warga binaan.
“Kami telah mengembangkan Nusakambangan menjadi sentra ketahanan pangan dengan total 21 jenis keterampilan kerja yang dapat diikuti warga binaan sesuai kebutuhan dunia kerja maupun potensi usaha produktif,” kata Mashudi dalam keterangannya.
Program tersebut meliputi berbagai bidang keterampilan, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan hasil pangan, hingga pelatihan kerja yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan warga binaan setelah menyelesaikan masa pidana.
Kepala Puslemasmil Brigjen TNI M. Yusrif Guntur menilai pendekatan pembinaan yang saat ini diterapkan Ditjenpas menunjukkan perubahan signifikan dalam sistem pemasyarakatan nasional.
Menurut dia, lembaga pemasyarakatan kini berkembang menjadi ruang pembelajaran dan pemberdayaan yang memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk meningkatkan kualitas diri.
“Sekarang lapas tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai tempat pemenjaraan. Berbagai program yang dijalankan menunjukkan peran pemasyarakatan sebagai wadah pembelajaran, pemberdayaan, dan persiapan reintegrasi sosial bagi warga binaan,” ujar Yusrif.
Ia menilai program pembinaan berbasis keterampilan memiliki peran strategis dalam membantu warga binaan memperoleh bekal yang relevan untuk menghadapi kehidupan setelah bebas.
Fokus pada Reintegrasi Sosial
Ditjenpas menegaskan pembinaan kemandirian menjadi salah satu instrumen utama dalam mendukung keberhasilan reintegrasi sosial warga binaan.
Selain memberikan keterampilan teknis, program tersebut juga diarahkan untuk membangun disiplin, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta etos kerja yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai lapas dan rumah tahanan di Indonesia juga mulai mengembangkan program produktif yang mendukung ketahanan pangan serta menghasilkan produk bernilai ekonomi melalui keterlibatan warga binaan.
Menurut Ditjenpas, pendekatan tersebut merupakan bagian dari reformasi pemasyarakatan yang menempatkan warga binaan sebagai individu yang perlu dipersiapkan agar mampu kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat.
Perkuat Kolaborasi Antarinstansi
Audiensi antara Ditjenpas dan Puslemasmil juga menjadi ruang evaluasi dan pertukaran praktik baik terkait penyelenggaraan program pembinaan.
Kedua institusi menilai kolaborasi lintas sektor penting untuk memperkuat kualitas pembinaan dan memastikan program yang dijalankan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta tantangan dunia kerja yang terus berkembang.
Melalui penguatan program kemandirian, Ditjenpas berharap lembaga pemasyarakatan tidak hanya menjadi tempat menjalani masa pidana, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang mampu membentuk warga binaan menjadi pribadi yang lebih produktif, mandiri, dan siap kembali ke masyarakat. (GMO)












