Jakarta, 26 April 2026 – Forum Betawi Rempug (FBR) Gardu 036 Rorotan menggelar kegiatan silaturahmi, santunan anak yatim dan jompo, serta penguatan komitmen pelestarian budaya Betawi di wilayah Rorotan Cilincing, Jakarta Utara. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat ukhuwah sekaligus memperkuat identitas budaya Betawi di tengah perubahan Jakarta sebagai kota global.
Acara yang berlangsung penuh kehangatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua FBR Gardu 036 Muslim Al Jabir, Ketua Korwil Utara Hj. Yusriah Dzinnun, S.Pd., M.IP, Pembina FBR Gardu 036 KH Haerudin, S.Kom, serta Imam Besar FBR KH Lutfi Hakim, M.A.
Turut hadir pula jajaran Koramil Kecamatan Cilincing, perwakilan Kelurahan Rorotan, para Ketua RW dan RT, serta anggota FBR dari berbagai wilayah Jabodetabek.
Dalam sambutannya, Pembina FBR Gardu 036 KH Haerudin, S.Kom menegaskan bahwa FBR bukan sekadar organisasi kemasyarakatan, melainkan wadah pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada pelayanan sosial, pelestarian budaya, dan penguatan solidaritas warga.
“FBR itu bukan preman. FBR adalah bagaimana kita memberdayakan masyarakat kampung kita, menjaga putra daerah, budaya, dan adatnya di kampung sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Gardu 036 memiliki dua unit mobil operasional yang dapat digunakan masyarakat secara gratis, khususnya untuk membantu warga yang sakit dan membutuhkan transportasi darurat tanpa biaya tambahan.
Selain itu, Gardu 036 juga aktif mengembangkan padepokan seni sebagai upaya melestarikan budaya Betawi, termasuk melalui kelompok seni “Naga Pamungkas FBR 36” yang fokus pada seni tradisional dan pencak silat.
KHaerudin,SKOM Menegaskan berharap wilayah Rorotan dan sekitarnya dapat berkembang menjadi kampung budaya Betawi dengan dukungan pemerintah daerah, termasuk pemanfaatan lahan milik Pemda DKI Jakarta untuk pembangunan padepokan budaya.
“Kami ingin ada ruang untuk anak-anak muda belajar pencak silat, seni budaya, dan menjaga warisan Betawi agar tidak hilang,” katanya.
Sementara itu, Imam Besar FBR KH Lutfi Hakim, M.A menekankan pentingnya menjaga akar budaya Betawi di tengah perkembangan Jakarta yang terus bergerak sebagai kota metropolitan dan pusat peradaban.
Menurutnya, budaya Betawi merupakan hasil perpaduan berbagai budaya seperti Arab, Tionghoa, India, hingga Eropa yang kemudian membentuk identitas khas Jakarta.
“Siapapun yang hidup di Jakarta dan mencintai budayanya, dia adalah bagian dari Betawi. Betawi adalah budaya yang terbuka,” ujarnya.












