JAKARTA, VertaNews.com – Di tengah gempuran film horor yang kerap mengandalkan jump scare murahan, rumah produksi GEMA Picture memilih jalan berbeda. Melalui dua proyek terbarunya, “Tuyul Second” dan “Personal Berondong”, mereka tidak sekadar mengejar tawa atau ketakutan sesaat, melainkan menyasar akar masalah sosial-ekonomi masyarakat urban Indonesia: jeratan utang dan obsesi terhadap validasi semu.
Acara selamatan kantor baru GEMA Picture di Jakarta, Jumat (18/9/2026), menjadi momentum deklarasi sikap tersebut. Dua film ini dijadwalkan mulai diproduksi pada Oktober dan November 2026, dengan target tayang pada 2027.
Metafora Tuyul: Jerat Pinjol sebagai Hantu Modern
Film “Tuyul Second”, yang disutradarai oleh Indrayanto dan diproduseri Adhi Kartiwa, menggunakan entitas mistis tuyul bukan sebagai hantu konvensional, melainkan sebagai metafora atas keputusasaan ekonomi. Dalam narasi film ini, tuyul hadir karena adanya keinginan manusia untuk mencari kekayaan instan—sebuah cerminan nyata dari maraknya fenomena pinjaman online (pinjol) ilegal.
Adhi Kartiwa menegaskan bahwa pendekatan horor-komedi dipilih untuk membuat kritik sosial lebih mudah dicerna tanpa kehilangan ketajamannya.
“Tuyul itu sebenarnya hadir berhubungan dengan kondisi ekonomi seseorang, sebuah jalan pintas. Kita bisa menertawakan kondisi kita, kondisi ekonomi kita, dan segala macam hal itu bisa kita ungkapkan dengan cara yang sangat ringan dan menghibur,” ujar Adhi.
Lebih jauh, Adhi menyoroti bahaya mentalitas “jalan pintas” yang ditawarkan pinjol. Ia melihat banyak masyarakat terjebak dalam siklus utang yang justru memperburuk keadaan, bukan menyelesaikannya.
“Jangan selalu mengandalkan pinjol, karena semakin terjerat semakin lama semakin akan membunuh kita juga. Bukan mengatasi masalah, tapi memperbanyak masalah,” tegasnya.
Uniknya, film ini juga berusaha mendestigmatisasi profesi debt collector. Alih-alih menggambarkan mereka sebagai sosok yang kasar dan arogan, “Tuyul Second” mencoba menampilkan sisi manusiawi dan rasional dari para penagih utang, menawarkan perspektif baru dalam konflik antara debitur dan kreditur.
Untuk menjaga keseimbangan antara unsur horor dan komedi, GEMA Picture melibatkan tiga pemeran utama dari latar belakang stand-up comedy. Lokasi syuting direncanakan di Sukabumi dan Bandung untuk memperkuat atmosfer cerita.
‘Personal Berondong’: Satire atas Obsesi Validasi Digital
Jika “Tuyul Second” mengkritik krisis ekonomi, maka “Personal Berondong” menohok krisis identitas. Film drama-komedi yang ditulis dan disutradarai Harris Cinnamon ini mengangkat fenomena personal branding yang berlebihan di era media sosial.
Harris melihat ada kegelisahan kolektif masyarakat modern yang merasa harus terus-menerus memvalidasi keberadaan mereka melalui citra publik.
“Setiap orang itu rasa-rasa pengen selalu punya validasi. Pengen punya personal branding yang kuat,” kata Harris.
Melalui pendekatan satire, Harris ingin mengajak penonton untuk kembali jujur pada diri sendiri. Ia berargumen bahwa pencitraan yang dipaksakan justru menutupi jati diri asli.
“Kalau kita jujur dengan diri sendiri, tidak perlu pencitraan, otomatis jati diri itu atau personal branding itu akan muncul dengan sendirinya,” imbuhnya.
Proyek ini masih dalam tahap pematangan skenario dan dijadwalkan mulai produksi pada November 2026 di Jakarta.
Ambisi Satu Juta Penonton
Kehadiran deretan nama seperti Ozi Saputra, Sinta Bachir, Pamela, Vista Putri, hingga Cupi Cupita dalam acara tersebut menandakan keseriusan GEMA Picture dalam menggarap kedua proyek ini. Sinta Bachir, yang dikenal dengan perannya di film horor, mengaku antusias meski secara pribadi ia takut terhadap hal-hal mistis.
“Saya sebenarnya penakut orangnya. Jadi kalau syuting, kru enggak boleh jauh-jauh dari aku,” canda Sinta, sambil menyatakan harapannya agar film dapat segera tayang dan diapresiasi penonton.
Executive Producer Billy Noval Hasan dan Kamisah memastikan bahwa kedua film ini bukan sekadar produk komersial, tetapi upaya untuk menciptakan opini baru di industri perfilman Indonesia. Target ambisius ditetapkan untuk “Tuyul Second”, yakni minimal satu juta penonton.
“Kalau bisa mencapai satu juta penonton bahkan bisa lebih, alhamdulillah. Banyaknya penonton dan bisa diapresiasi, itu penting,” tutup Adhi.
Dengan menggabungkan hiburan dan refleksi sosial, GEMA Picture tampaknya ingin membuktikan bahwa film populer tidak harus dangkal. Apakah formula ini akan berhasil menyentuh hati penonton Indonesia di 2027? Waktu yang akan menjawab.












