Pramono Resmikan Masjid Apung An-Nur di Ancol, Bisa Dikunjungi Gratis hingga Akhir Oktober
**JAKARTA** — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Masjid Apung An-Nur Jakarta di kawasan Pantai Ancol Taman Impian, Jakarta Utara, Jumat, 16 Oktober 2026. Berdiri di atas laut dengan desain menyerupai bahtera, masjid ini diproyeksikan menjadi ruang ibadah sekaligus destinasi wisata religi baru di Ibu Kota.
Kehadiran Masjid Apung An-Nur tidak hanya menambah fasilitas di kawasan wisata Ancol. Bangunan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang publik yang mengakomodasi kebutuhan spiritual, sosial, dan rekreasi masyarakat.
Masjid ini dirancang agar tidak semata-mata menjadi tempat menunaikan salat. Keberadaannya diharapkan turut menghidupkan kegiatan keagamaan, pendidikan, pembinaan umat, serta memperkuat interaksi antara warga dan pengunjung kawasan wisata.
Berada di lingkungan wisata pesisir, Masjid Apung An-Nur juga menawarkan pengalaman beribadah dengan latar laut Jakarta. Perpaduan fungsi religi dan wisata itu diharapkan memperkaya pilihan destinasi bagi masyarakat sekaligus menjadi identitas baru bagi kawasan Ancol.
## Terinspirasi Bahtera dan Simbol Lima Rukun Islam
Masjid Apung An-Nur Jakarta berdiri di atas laut Pantai Ancol dengan luas bangunan mencapai 2.241 meter persegi. Arsitek Andra Matin merancang bangunan tersebut dengan mengambil inspirasi dari siluet bahtera kapal, yang merepresentasikan kekayaan maritim Indonesia.
Konsep bahtera diwujudkan melalui tiga elemen utama, yakni badan kapal, layar, dan tiang kapal. Secara keseluruhan, bentuk bangunan dianalogikan sebagai kapal besar yang membawa dan menyebarkan syiar Islam.
Dari sudut pandang denah, siluet masjid juga menggambarkan bentuk bulan dan bintang, simbol yang lekat dengan tradisi visual Islam. Sementara itu, bentuk dasar bangunan yang merepresentasikan bintang memiliki lima sudut sebagai simbol lima rukun Islam.
Komposisi bangunan dibagi menjadi lima bagian untuk melambangkan lima waktu salat dalam sehari. Dengan demikian, konsep arsitekturnya tidak hanya menonjolkan bentuk visual, tetapi juga memasukkan unsur simbolis yang berkaitan dengan nilai-nilai keagamaan.
Pembangunan masjid dimulai pada 1 Mei 2024 dan dinyatakan selesai pada 29 Juli 2026. Bangunan ini berada di kawasan yang dikelola PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk.
Dari sisi kapasitas, area utama masjid mampu menampung 600 jemaah, terdiri atas 460 jemaah laki-laki dan 140 jemaah perempuan. Selain itu, tersedia area plaza yang dapat menampung 300 jemaah. Dengan demikian, total kapasitas Masjid Apung An-Nur mencapai 900 orang.
## Akses Gratis hingga 31 Oktober 2026
Manajemen Ancol membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengunjungi sekaligus beribadah di Masjid Apung An-Nur tanpa membayar tiket masuk orang ke kawasan Ancol melalui Pintu Gerbang Utama selama periode 16–31 Oktober 2026.
Program tersebut berlaku setiap hari pada pukul 16.00–23.00 WIB. Namun, fasilitas gratis ini hanya mencakup tiket masuk orang dan tidak berlaku untuk tiket kendaraan maupun unit rekreasi lainnya.
Pengunjung diwajibkan melakukan reservasi terlebih dahulu melalui situs resmi Ancol, yakni **ancol.com**. Pengunjung yang melakukan reservasi melalui situs tersebut juga berkesempatan memperoleh voucher diskon untuk layanan makanan dan minuman atau *food and beverage* (FnB) di kawasan Ancol.
Kebijakan ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal masjid baru tersebut tanpa dikenai biaya tiket masuk orang selama periode promosi. Di sisi lain, pengunjung tetap perlu memperhitungkan biaya kendaraan dan aktivitas rekreasi lain apabila hendak menikmati fasilitas tambahan di kawasan wisata tersebut.
## Ancol Perluas Fungsi Kawasan Wisata
Sebagai badan usaha milik daerah strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Ancol menempatkan pembangunan masjid ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan dan pelayanan bagi pengunjung.
Masjid Apung An-Nur diharapkan tidak hanya memperkuat daya tarik wisata kawasan pesisir, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi kehidupan sosial masyarakat. Keberadaannya membuka ruang bagi kegiatan keagamaan sekaligus mempertemukan kebutuhan wisata, budaya, dan interaksi sosial dalam satu kawasan.
Pengembangan fasilitas semacam ini juga berkaitan dengan peran ruang publik di tengah pertumbuhan Jakarta sebagai kota metropolitan. Kawasan wisata tidak hanya dituntut menawarkan hiburan, tetapi juga menyediakan ruang yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk beribadah, berinteraksi, dan menjalankan kegiatan sosial.
Dengan diresmikannya Masjid Apung An-Nur, tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas tersebut dapat dikelola secara berkelanjutan, mudah diakses, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Perpaduan arsitektur, fungsi ibadah, serta daya tarik wisata akan menjadi bagian penting dalam menentukan peran masjid ini di tengah kehidupan warga Jakarta.












