Berita  

Selamat Jalan Pahlawan Langit: Teungku Nyak Sandang, Sang Donatur Emas Seulawah RI-001, Wafat di Usia 100 Tahun

Aceh Jaya, dNewsStar.com – Kabar duka menyelimuti Tanah Rencong. Teungku Nyak Sandang, tokoh sepuh asal Aceh yang dikenal sebagai salah satu donatur pesawat pertama Indonesia, Seulawah RI-001, dilaporkan menghembuskan napas terakhir di kediamannya, Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, pada Selasa siang, pukul 12.20 WIB. Almarhum meninggalkan warisan abadi bagi bangsa di usia yang sangat mulia: 100 tahun.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sang pejuang derma, kakek yang pernah mewakafkan tanah dan emasnya untuk negeri, kini telah pulang ke rahmatullah,” tulis akun Instagram @tercyduk.aceh, yang turut mengabarkan kabar kepergian sang tokoh.

Kabar wafatnya Nyak Sandang pun langsung membanjiri media sosial. Ribuan warganet mengucapkan belasungkawa sekaligus mengenang jasa besar almarhum yang pernah menyumbangkan harta bendanya demi kemerdekaan Indonesia.

Jejak Emas di Langit Nusantara: Kisah Nyak Sandang dan Seulawah RI-001

Di balik sejarah pembelian pesawat pertama Indonesia, terdapat kisah inspiratif tentang keikhlasan Nyak Sandang. Pada masa revolusi, tepatnya Juni 1948, Presiden Soekarno datang ke Aceh untuk menggalang dana dari para saudagar dan rakyat, menyusul blokade ekonomi Belanda yang membuat kas negara menipis.

“Saat itu, Bung Karno menyebut pesawat sebagai ‘jembatan udara’ untuk menyatukan kepulauan kita. Kalimat itu membakar semangat para saudagar Aceh, termasuk Nyak Sandang muda,” ungkap seorang sejarawan lokal yang enggan disebutkan namanya.

Nyak Sandang, yang kala itu baru berusia 23 tahun, bersama ayahnya lantas mengambil keputusan bersejarah: menjual sepetak tanah yang dihuni 40 batang pohon kelapa seharga Rp100, lalu menyerahkan hasilnya kepada pemerintah disertai 10 gram emas murni.

“Donasi itu bukan sekadar angka. Itu adalah simbol cinta tanah air yang tulus dari rakyat Aceh untuk Indonesia,” tutur salah satu kerabat almarhum dalam wawancara singkat.

Pesawat Diplomasi yang Mengukir Sejarah

Hasil penggalangan dana dari Aceh itu akhirnya mewujud menjadi pesawat Seulawah RI-001, pesawat sipil pertama milik Indonesia. Pesawat ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan instrumen diplomasi yang krusial.

Seulawah RI-001 pertama kali digunakan secara resmi untuk mengantarkan Wakil Presiden Mohammad Hatta berkeliling Sumatera, membuka jalur komunikasi dan memperkuat kedaulatan RI di mata dunia.

“Tanpa dukungan rakyat Aceh, termasuk Nyak Sandang, misi diplomasi Indonesia di awal kemerdekaan bisa jadi terhambat. Pesawat ini adalah bukti bahwa kemerdekaan diraih dengan gotong royong,” jelas pengamat sejarah penerbangan Indonesia.

Penghargaan Negara di Ujung Usia

Atas jasa besarnya, pada 2025 lalu, Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Teungku Nyak Sandang. Penghargaan itu menjadi pengakuan resmi negara atas kontribusi almarhum yang telah memberikan sebagian hartanya di masa sulit.

“Pak Nyak tidak pernah meminta imbalan. Bagi beliau, memberi untuk negeri adalah ibadah. Penghargaan ini adalah bentuk terima kasih kami yang tak akan pernah cukup,” ucap perwakilan keluarga dalam pernyataan duka.

Warisan yang Tak Akan Pudar

Kini, sosok Teungku Nyak Sandang telah tiada. Namun, kisahnya tentang keikhlasan, cinta tanah air, dan semangat berkorban akan terus hidup dalam lembaran sejarah Indonesia. Seulawah RI-001 mungkin telah pensiun, tetapi semangat “terbang” yang ia bantu wujudkan tetap menginspirasi generasi penerus.

“Kami berharap kisah kakek bisa menjadi pelajaran bagi anak muda: bahwa kontribusi sekecil apa pun, jika tulus, bisa mengubah sejarah,” pungkas keluarga almarhum.

Selamat jalan, Teungku Nyak Sandang. Jasa Anda akan selalu dikenang di langit Nusantara.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *