Gus Rofi’i Pimpin Istighosah Akbar, Serukan Perdamaian Dunia & Kecam Kekerasan Terhadap Prajurit TNI

Jakarta, VertaNews.com – Ribuan jemaah memadati Kampung Family, Lebak Bulus, Cinere, dalam suasana penuh haru dan khidmat. Acara istighosah kubro akbar yang digagas oleh Muhammad Rofi’i Muchlis (Gus Rofi’i), Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara, ini mengusung misi spiritual yang mendalam: mendoakan kemenangan Iran dan terwujudnya perdamaian global.

Berbeda dari aksi demonstrasi pada umumnya, kegiatan ini memilih jalur munajat sebagai bentuk perlawanan damai. Sejumlah ulama dan kiai terkemuka turut memimpin doa, di antaranya Muhammad Ali Rahman, KH. Rahmat Zailani Kiki, KH. Alawi Nurul Alam, dan TB. Mogi Nur Fadhil. Hadir pula elemen masyarakat seperti Nahdiyin, Laskar PWI, BKN Banten, serta rekan-rekan media yang antusias mengikuti jalannya acara.

Dalam sambutannya, Gus Rofi’i menekankan bahwa perdamaian adalah hak universal seluruh umat manusia.

“Doa yang kita panjatkan hari ini tidak eksklusif untuk kelompok tertentu. Kami percaya, setiap jiwa di belahan bumi mana pun berhak merasakan ketenangan, terlepas dari keyakinan atau latar belakangnya,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti situasi Iran yang dinilai sedang menghadapi tekanan berat. Menurut Gus Rofi’i, ketika akses keadilan tertutup, doa menjadi senjata terakhir rakyat biasa untuk menyuarakan harapan.

“Kami tidak memegang senjata, tidak punya armada militer. Tapi kami punya kekuatan yang tak terlihat: doa. Itulah yang kami himpun hari ini, bersama para kiai dan masyarakat, untuk mengirimkan energi positif ke seluruh dunia,” tambahnya.

Suasana semakin haru saat Gus Rofi’i menyampaikan rasa keprihatinan mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian PBB di Lebanon: Pratu Anumerta Rachmat Hidayat, Pratu Anumerta Andika Pratama, dan Pratu Anumerta Dwi Cahyo.

“Mereka pergi bukan untuk menyerang, tapi untuk membawa harapan. Sangat menyakitkan ketika nyawa-nyawa mulia harus berakhir dalam kondisi yang tidak adil,” ujarnya dengan nada bergetar.

Gus Rofi’i pun tak ragu menyuarakan penegasan sikap terhadap segala bentuk kekerasan yang merenggut nyawa prajurit Indonesia.

“Ini bukan sekadar isu politik. Ini soal martabat kemanusiaan. Kami menolak keras segala tindakan yang mengabaikan nyawa tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Menyinggung peran Indonesia di kancah internasional, Gus Rofi’i menyoroti pentingnya evaluasi terhadap keterlibatan negara dalam berbagai kerja sama global, termasuk yang disebutnya sebagai skema BOP.

“Rakyat hanya bisa memberi masukan. Tapi ke depan, kami berharap Indonesia bisa berdiri tegak dengan prinsip kedaulatannya sendiri, tidak mudah terbawa arus tekanan dari pihak manapun,” paparnya.

Terkait perbedaan mazhab, khususnya antara Sunni dan Syiah, Gus Rofi’i mengajak semua pihak untuk melihat esensi yang lebih besar: persaudaraan kemanusiaan.

“Jika kita masih sibuk memperdebatkan perbedaan fikih, kita justru kehilangan inti ajaran: kasih sayang dan keadilan. Yang terpenting adalah kita berpihak pada kebenaran dan melindungi sesama manusia,” jelasnya.

Di penghujung acara, Gus Rofi’i menyampaikan harapan besar kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menunjukkan kepemimpinan yang tegas dalam menyikapi dinamika global.

“Sebagai pemimpin bangsa, keberanian untuk bersikap adalah kunci. Minimal, dunia harus mendengar suara Indonesia yang menolak ketidakadilan. Itu bentuk tanggung jawab moral seorang presiden,” pungkasnya.

“Kami ingin melihat Indonesia yang tidak hanya diam, tapi aktif menyuarakan apa yang benar. Itu harapan kami bersama,” tutup Gus Rofi’i dengan penuh keyakinan.


Catatan Redaksi:
Kegiatan istighosah ini menjadi bukti bahwa spiritualitas dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan. Di tengah gejolak konflik global, doa dan solidaritas kemanusiaan tetap menjadi jembatan untuk menyatukan perbedaan dan memperkuat harapan akan dunia yang lebih damai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *