JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi kembali menggunakan sistem ompreng dengan menu basah sejak 31 Maret 2026, usai sempat beralih ke menu kering selama bulan Ramadan dan libur Lebaran. Namun, kembalinya program ini justru memunculkan sorotan baru setelah sebuah video viral menunjukkan para guru di sebuah sekolah mengumpulkan sisa makanan siswa untuk dijadikan pakan ternak.
Video Viral: Dari Ompreng ke Ember Cat
Dalam rekaman yang diunggah akun Instagram @purnamagarage_ dan telah ditonton lebih dari 145 ribu kali, tampak tumpukan ompreng bekas makan siang yang diikat rapi dengan tali rafia. Tak jauh dari situ, sebuah ember cat besar berisi sisa lauk dan nasi yang tidak habis dikonsumsi siswa.
“Lihat nih, Bapak-Ibu Guru lagi ‘panen’ sisa MBG. Bukan dibuang, tapi dikumpulkan biar nggak mubazir. Lumayan buat si bebek di rumah,” ujar perekam video dalam narasinya, Sabtu (4/4/2026).
Adegan tersebut memperlihatkan bagaimana para guru dengan sigap memilah sisa makanan dari setiap ompreng sebelum akhirnya disatukan dalam wadah besar.
Guru Honorer: “Daripada Mubazir, Lebih Baik Bermanfaat”
Salah satu guru honorer yang ditemui di lokasi menjelaskan bahwa praktik ini dilakukan sebagai upaya meminimalkan pemborosan makanan sekaligus membantu kebutuhan ekonomi sederhana.
“Ya, daripada sisa-sisa ini berakhir di tempat sampah, lebih baik kami kumpulkan. Kebetulan kami punya ternak bebek di rumah, jadi ini jadi tambahan pakan. Alhamdulillah, sedikit membantu,” ungkap sang guru dengan nada bersahaja.
Ia juga menyinggung realitas penghasilan guru honorer yang terbatas, sehingga setiap bentuk penghematan dan pemanfaatan sumber daya sangat berarti.
“Namanya juga guru honorer, gaji pas-pasan. Kalau ada cara buat mengoptimalkan apa yang ada, kenapa nggak? Ini kan win-win solution: nggak ada makanan terbuang, ternak juga kenyang,” tambahnya.
Reaksi Warganet: Antara Keprihatinan dan Dukungan
Unggahan tersebut memancing beragam tanggapan dari warganet. Sebagian menyayangkan masih tingginya sisa makanan yang tidak habis dikonsumsi siswa, sementara yang lain mengapresiasi inisiatif guru dalam mengurangi food waste.
Berikut beberapa komentar yang mencuat:
| Akun | Komentar |
|---|---|
| @mfd6 | “Mungkin lebih baik siswa dibiasakan bawa kotak makan sendiri. Kalau nggak habis, bisa dibawa pulang. Jadi lebih terkontrol porsinya.” |
| @naa*a | “Tapi kadang walau dibawa pulang, kalau nggak langsung dimakan, ya tetap basi dan akhirnya dibuang juga.” |
| @adr****e | “Justru ini contoh nyata ekonomi sirkular skala mikro. Sisa makanan jadi pakan, nggak numpuk jadi sampah. Keren!” |
| @arte | “Nggak salahin gurunya sih. Tapi kalau sisa sebanyak ini, memang mau diapakan lagi kalau nggak buat ternak?” |
Pakar Gizi: Pentingnya Edukasi Porsi dan Kesadaran Makan
Menanggapi fenomena ini, ahli gizi masyarakat menyarankan agar program MBG tidak hanya fokus pada penyediaan makanan, tetapi juga pada edukasi pola makan sehat sejak dini.
*”Ini momentum bagus untuk mengajarkan anak-anak tentang *mindful eating: mengambil secukupnya, menghargai makanan, dan memahami dampak limbah pangan. Guru dan sekolah bisa jadi ujung tombak perubahan perilaku ini,” ujar Dr. Fitri Handayani, M.Gizi, dalam wawancara terpisah.
Ia juga menekankan bahwa sisa makanan dalam skala besar, jika dikelola dengan benar, dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan.
Sekolah Diminta Transparan, Publik Didorong Berpikir Kritis
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengingatkan seluruh satuan pendidikan pelaksana MBG untuk tetap mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan program.
“Kami menghargai inisiatif lokal dalam memanfaatkan sisa makanan. Namun, penting juga untuk memastikan bahwa porsi yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan gizi dan kapasitas makan anak. Evaluasi berkala perlu dilakukan,” jelas Juru Bicara Kemendikbudristek.
Di sisi lain, publik didorong untuk tidak hanya berhenti pada kritik, tetapi juga turut berkontribusi dalam mencari solusi kreatif agar program strategis seperti MBG benar-benar tepat sasaran, efektif, dan minim limbah.










