Film  

Melalui film Drama Komedi Terbarunya Diana Limbong Angkat Isu Remaja dalam Film Nakal

Melalui film Drama Komedi Terbarunya Diana Limbong Angkat Isu Remaja dalam Film Nakal

Vertanews/JAKARTA — Produser Diana Limbong ingin mengajak orang tua melihat kenakalan remaja dari sudut pandang berbeda melalui film drama komedi terbarunya Nakal Film yang disutradarai Benni Setiawan itu mengangkat keresahan anak muda yang kerap mendapat cap negatif tanpa diberi kesempatan menjelaskan alasan di balik perilaku mereka.(22/Oktober/2026)

Bagi Diana, label nakal tidak selalu mencerminkan persoalan yang sesungguhnya dihadapi seorang anak. Di balik kebiasaan yang dianggap melanggar aturan keluarga, menurut dia, ada kemungkinan remaja sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang tidak tersampaikan kepada orang tuanya.

“Sebetulnya anak-anak remaja zaman sekarang itu ingin bilang, ‘Saya ini bukan nakal, tapi saya minta kesempatan untuk didengar sama orang tua,’” kata Diana dalam konferensi pers pengumuman judul dan pemain film Nakal di Caspia Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 21 Oktober 2026.

Diana mengatakan gagasan film tersebut berangkat dari keresahannya sebagai orang tua ketika melihat hubungan antara anak dan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Ia ingin menghadirkan cerita yang dekat dengan pengalaman remaja sekaligus mendorong orang tua untuk lebih terbuka mendengarkan anak-anak mereka.

Menurut Diana, perilaku seperti bermain gawai setiap hari atau pulang malam kerap langsung dikaitkan dengan kenakalan. Padahal, tindakan tersebut tidak selalu cukup untuk menjelaskan karakter maupun persoalan yang sedang dihadapi seorang anak.

“Jangan sampai anak pulang malam langsung diberi label nakal. Beri mereka kesempatan untuk mengungkapkan alasan. Kadang-kadang kita sebagai orang tua egonya tinggi karena merasa sebagai orang tua, sehingga tidak pernah mau mendengarkan anaknya,” ujarnya.

Melalui Nakal Diana ingin menggeser cara pandang orang tua yang cenderung menempatkan diri sebagai pihak paling benar dalam hubungan keluarga. Ia menilai komunikasi dua arah diperlukan agar orang tua tidak buru-buru menghakimi sebelum memahami persoalan yang dialami anak.

Diana mengatakan tim produksi melakukan riset untuk menggali pengalaman remaja yang merasa risih dengan cap nakal. Ia bersama tim ingin membawa persoalan tersebut ke layar lebar dengan pendekatan yang tetap menghibur.

Film ini dikemas sebagai drama komedi. Diana berharap tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat menjangkau penonton luas tanpa kehilangan pesan tentang hubungan orang tua dan anak.

Nakal menjadi film keempat Diana sebagai produser. Ia mengatakan proyek ini sekaligus menjadi tantangan untuk menghadirkan warna berbeda dalam industri film Indonesia, terutama melalui cerita remaja yang selama ini kerap dinilai hanya dari perilaku luarnya.

Pengumuman judul dan pemain film tersebut turut memperkenalkan sejumlah aktor lintas generasi, di antaranya Donny Damara, Boris Bokir, Aming, El Putra Sarira, Fatih Unru, Giulio Parengkuan, dan Nacita Limbong. Proses syuting direncanakan berlangsung sepenuhnya di Purwakarta, Jawa Barat.

Nacita Limbong Debut Film sebagai Erna

Di antara deretan pemain tersebut, Nacita Limbong mendapat perhatian karena akan menjalani debut layar lebarnya sebagai Erna. Putri Diana Limbong itu mengaku terjun ke dunia akting bukan karena paksaan sang ibu, melainkan keinginan mencoba pengalaman baru di luar kegiatan yang selama ini dijalaninya.

“Aku baru menyadari ingin membuka babak baru dalam hidup. Jadi, aku ingin mencoba film pertamaku, dan aku ingin memulainya di film Mami,” kata Nacita.

Nacita mengaku belum pernah mengikuti pelatihan akting secara khusus untuk kebutuhan casting maupun teater. Meski demikian, ia menyebut pernah menjalani coaching dan kini mendapat kesempatan belajar langsung melalui proses produksi film.

Dalam Nakal Nacita memerankan Erna, kakak sepupu Asep yang digambarkan vokal, realistis, dan cenderung galak. Namun, di balik sikap keras tersebut, Erna memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayang.

“Dia galak, tapi di balik galaknya itu, itulah cara dia menunjukkan kasih sayangnya,” ujar Nacita menjelaskan karakter yang diperankannya.

Nacita juga mengaku tidak terlalu canggung ketika harus beradu akting dengan para pemain yang lebih berpengalaman. Ia merasa lingkungan kerja yang suportif membuatnya lebih nyaman menjalani pengalaman pertamanya di dunia film.

Menurut Nacita, salah satu aktris yang menjadi inspirasinya adalah Dian Sastrowardoyo. Ia mengagumi kemampuan akting Dian dan berharap suatu saat bisa terlibat dalam proyek yang sama dengannya.

Namun, Nacita menyadari bahwa memulai karier di industri hiburan juga berarti menghadapi penilaian publik. Ia mengatakan tidak mungkin membuat semua orang menyukainya, tetapi ingin membuktikan kemampuannya melalui kerja dan proses belajar.

“Aku ingin menunjukkan kepada mereka kalau aku bisa di dunia ini, tapi bukan karena bantuan Mami saja,” katanya.

Pendidikan Tetap Menjadi Prioritas

Meski mulai memasuki industri film, Nacita menegaskan tidak ingin mengesampingkan pendidikannya. Ia berencana tetap fokus menjalani kuliah sambil berusaha membagi waktu dengan kegiatan di dunia hiburan.

Diana pun menyatakan dukungannya terhadap pilihan sang anak. Namun, ia mengingatkan bahwa pendidikan harus tetap menjadi prioritas dan Nacita perlu mampu menjaga diri ketika menjalani karier di lingkungan hiburan.

“Yang terpenting, kuliah. Sekolah dan pendidikan itu harus nomor satu,” kata Diana.

Bagi Diana, keterlibatan Nacita dalam film ini juga menjadi bagian dari proses pengenalan anak terhadap dunia yang telah lama digelutinya. Ia mengaku sejak kecil mengajak Nacita mengenal lingkungan hiburan, sehingga sang anak tidak sepenuhnya asing dengan industri tersebut.

Meski demikian, dukungan keluarga tidak serta-merta menjamin perjalanan karier Nacita. Debut melalui Nakal menjadi langkah awal bagi Nacita untuk membuktikan apakah ia mampu mengembangkan kemampuan aktingnya secara mandiri.

Sementara itu, melalui film yang sama, Diana ingin mengajak penonton mempertanyakan kembali batas antara kenakalan dan perilaku remaja yang belum dipahami orang dewasa.

Persoalan tersebut menjadi titik berangkat Nakal sebelum memberikan cap kepada anak, orang tua perlu memberi ruang untuk mendengar. Sebab, di balik perilaku yang dianggap bermasalah, bisa jadi ada persoalan yang belum pernah mendapat kesempatan untuk dijelaskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *