Hari Paru Sedunia 2026, PDPI Ingatkan Kesehatan Paru Harus Dijaga Sepanjang Kehidupan

Vertanews.com/JAKARTA — Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan paru sejak awal kehidupan hingga usia lanjut. Pesan tersebut disampaikan dalam konferensi pers memperingati Hari Paru Sedunia 2026 yang digelar secara daring, Jumat (25/9/2026).

Peringatan Hari Paru Sedunia tahun ini mengangkat tema “A Lifetime of Lung Health” atau “Kesehatan Paru Sepanjang Kehidupan”. Tema tersebut menekankan bahwa kesehatan paru tidak semata-mata berkaitan dengan penanganan penyakit ketika seseorang mengalami batuk atau sesak napas.
Ketua atau perwakilan PDPI, Dr. Jatu Aphridasari, Sp.P(K), mengatakan kesehatan paru dibentuk sejak awal kehidupan dan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari lingkungan, paparan polusi, kebiasaan merokok, hingga kondisi kesehatan sepanjang usia.
“Kesehatan paru dibangun sejak awal kehidupan. Dipengaruhi lingkungan masa kanak-kanak dan remaja, harus dijaga sepanjang usia produktif, dan menjadi bagian penting dari healthy ageing,” ujar Jatu.

Menurut Jatu, terdapat empat tahapan penting dalam menjaga kesehatan paru, yakni mendukung perkembangan paru yang sehat, memastikan pertumbuhan paru berlangsung optimal, mempertahankan fungsi paru selama usia dewasa, serta menjaga kesehatan dan fungsi paru hingga usia lanjut.
Beban Penyakit Paru Masih Tinggi
PDPI menilai persoalan kesehatan paru masih menjadi tantangan besar, baik secara global maupun di Indonesia.
Forum of International Respiratory Societies (FIRS) mencatat lebih dari 750 juta orang hidup dengan asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Kedua penyakit tersebut berkaitan dengan sekitar 3,8 juta kematian setiap tahun.

Data yang disampaikan dalam momentum Hari Paru Sedunia juga menunjukkan besarnya beban sejumlah penyakit pernapasan. Asma diperkirakan dialami sekitar 363 juta orang pada 2023, sedangkan PPOK menyebabkan sekitar 3,4 juta kematian pada tahun yang sama.

Tuberkulosis juga masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat. Secara global, sekitar 10,7 juta orang diperkirakan mengalami TB pada 2024.
Di Indonesia, beban penyakit paru juga cukup besar. PDPI menyebut lebih dari enam juta orang hidup dengan asma dan sekitar lima juta orang mengalami PPOK.
Indonesia juga masih menghadapi persoalan TB dengan jumlah kasus yang tinggi. Sementara itu, kanker paru tetap menjadi salah satu penyakit yang memberikan beban besar terhadap angka kesakitan dan kematian.

Polusi Udara Menjadi Ancaman
Selain penyakit infeksi dan kebiasaan merokok, kualitas udara menjadi salah satu faktor yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan paru.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan polusi udara berkaitan dengan sekitar tujuh juta kematian prematur setiap tahun. Paparan partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan berkontribusi terhadap berbagai gangguan kesehatan.
Risikonya tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan akut. Paparan polusi juga dapat meningkatkan risiko asma, PPOK, pneumonia, hingga kanker paru.

Di Indonesia, persoalan kualitas udara dapat muncul dari berbagai sumber, mulai dari aktivitas transportasi dan industri, kebakaran hutan dan lahan, hingga aktivitas vulkanik.
Karena itu, PDPI menilai perlindungan kesehatan paru tidak dapat hanya dibebankan kepada individu.
Upaya menjaga paru membutuhkan lingkungan yang lebih sehat, pengendalian sumber pencemaran, serta kebijakan yang mampu mengurangi paparan masyarakat terhadap polutan berbahaya.

Rokok dan Vape Jadi Perhatian
PDPI juga menyoroti konsumsi produk tembakau dan rokok elektronik.
Rokok konvensional diketahui meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk PPOK, kanker paru, penyakit kardiovaskular, dan stroke. Paparan asap rokok juga dapat berdampak terhadap orang yang tidak merokok.
Pada saat yang sama, penggunaan rokok elektronik menjadi tantangan baru, terutama di kalangan generasi muda.
PDPI mengingatkan aerosol rokok elektronik dapat mengandung nikotin dan berbagai bahan kimia yang berpotensi berdampak terhadap sistem pernapasan.

Karena itu, perlindungan anak dan remaja dari paparan rokok maupun vape dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan paru sepanjang kehidupan.
Jangan Menunggu Sesak
PDPI mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai mengalami gangguan pernapasan berat untuk memeriksakan kondisi paru.
Batuk berkepanjangan, sesak napas, mengi, produksi dahak berlebihan, batuk darah, maupun nyeri dada merupakan gejala yang perlu mendapatkan perhatian medis.

Pemeriksaan dapat dilakukan melalui evaluasi klinis dan, sesuai indikasi, pemeriksaan penunjang seperti spirometri, radiologi, maupun pemeriksaan untuk mendeteksi infeksi seperti TB.

Deteksi dan penanganan lebih awal diperlukan untuk mencegah kerusakan paru berkembang lebih lanjut.
Akses Layanan Perlu Diperkuat
Selain persoalan pencegahan, PDPI menyoroti pentingnya pemerataan akses terhadap diagnosis dan pengobatan.
Kesenjangan akses terhadap pemeriksaan penunjang maupun obat inhalasi untuk pasien asma dan PPOK masih menjadi tantangan di berbagai negara.

Di Indonesia, penguatan layanan kesehatan paru perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari fasilitas pelayanan kesehatan primer hingga rumah sakit rujukan.

Penguatan tersebut mencakup kemampuan diagnosis asma dan PPOK, pengendalian TB, layanan berhenti merokok, penanganan gangguan paru setelah TB, deteksi kanker paru, hingga rehabilitasi paru.

Kesehatan Paru Dimulai dari Lingkungan
Jatu menegaskan bahwa kesehatan paru bukan hanya menjadi tanggung jawab dokter spesialis paru.
“Kesehatan paru tidak hanya urusan dokter paru. Kesehatan paru dimulai dari udara yang dihirup ibu hamil, lingkungan tempat anak tumbuh, pilihan untuk tidak mulai merokok pada masa remaja, hingga akses diagnosis berkualitas pada usia lanjut,” katanya.
Karena itu, PDPI mengajak masyarakat, tenaga kesehatan, pemerintah, institusi pendidikan, dunia usaha, dan media untuk menempatkan kesehatan paru sebagai bagian dari investasi kesehatan jangka panjang.

Upaya tersebut mencakup menjaga kualitas udara, menciptakan lingkungan bebas asap rokok, meningkatkan aktivitas fisik, memenuhi kebutuhan nutrisi, melakukan vaksinasi sesuai rekomendasi, serta melakukan pemeriksaan apabila muncul gejala yang mengarah pada penyakit paru.
“A Lifetime of Lung Health” pada akhirnya bukan hanya menjadi tema peringatan tahunan. Pesan tersebut menekankan bahwa paru yang sehat perlu dijaga sejak seseorang berada dalam kandungan, masa kanak-kanak, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia.

Udara bersih dan lingkungan yang mendukung kesehatan paru menjadi bagian penting agar masyarakat dapat hidup lebih sehat dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.(andi e)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *