“Suamiku Lukaku” Gaungkan Isu KDRT di CFD 5 Kota, Acha Septriasa: Jangan Lagi Bungkam Korban

JAKARTA, VertaNews.com – Film produksi kembali memperluas kampanye sosialnya lewat kegiatan Car Free Day (CFD) batch kedua bertajuk For Mental Health and Healthy Living. Digelar serentak pada Sabtu, 24 Mei 2026, kegiatan ini berlangsung di lima kota besar yakni , , , , dan .

Kampanye tersebut menjadi bagian dari gerakan #memecahkankesunyian yang diusung film untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Kehadiran dan di lokasi CFD Jakarta turut menyita perhatian warga. Keduanya terlihat aktif berinteraksi dengan masyarakat sambil mengajak publik lebih peduli terhadap kondisi psikologis korban kekerasan dalam relasi rumah tangga.

“Lewat kegiatan ini kami ingin menyampaikan bahwa rumah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang, bukan justru ruang yang menghadirkan rasa takut dan trauma. Banyak korban memilih diam karena merasa sendirian, padahal mereka membutuhkan dukungan dan keberanian untuk bicara,” ujar tim kampanye film dalam keterangannya di Jakarta.

Tak sekadar promosi film, kegiatan ini juga membuka ruang dialog bersama masyarakat mengenai dampak psikologis yang sering kali tidak terlihat secara fisik. Tim produksi menilai luka emosional akibat kekerasan justru bisa meninggalkan efek jangka panjang terhadap kesehatan mental korban.

“Kekerasan bukan hanya soal luka di tubuh. Ada tekanan batin, rasa cemas, hingga trauma berkepanjangan yang perlahan menghancurkan mental seseorang. Karena itu, kami berharap masyarakat mulai lebih peka, berani mendengar, dan tidak lagi menganggap persoalan KDRT sebagai urusan privat semata,” lanjut perwakilan tim kreatif.

Film sendiri disutradarai oleh bersama , dengan naskah yang ditulis dan . Ceritanya terinspirasi dari fakta bahwa satu dari empat perempuan di Indonesia pernah mengalami kekerasan.

Film ini mengisahkan perjalanan Amina yang diperankan , seorang ibu yang hidup dalam tekanan rumah tangga bersama Irfan, karakter yang dimainkan . Meski tampak harmonis di depan publik, kehidupan mereka berubah menjadi penuh ketakutan di balik pintu rumah.

Konflik semakin memuncak saat kondisi sang putri, Nadia yang diperankan , memburuk akibat lingkungan keluarga yang toksik. Dalam perjuangannya, Amina mendapat dukungan dari Zahra, pengacara yang dimainkan .

“Karakter Amina menggambarkan bahwa keluar dari hubungan abusif bukan perkara mudah. Ada ketakutan, tekanan, bahkan ancaman yang harus dihadapi korban. Kami ingin penonton memahami bahwa korban membutuhkan dukungan nyata, bukan penghakiman,” ungkap tim produksi.

Film dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 27 Mei 2026. Melalui kekuatan cerita dan kampanye sosial yang konsisten, film ini diharapkan mampu membuka kesadaran publik bahwa isu KDRT dan kesehatan mental merupakan persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *